Kelembutan Ilahi yang Memulihkan
...

Kelembutan Ilahi yang Memulihkan

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 30 Maret 2026. Kelembutan Ilahi yang Memulihkan (Yesaya 42:1-7). 42:1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. 42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. 42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. 42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi segala pulau mengharapkan pengajarannya. 42:5 Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: 42:6 Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, 42:7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yesaya 42:1–7: Pertama, Kelembutan Ilahi yang Memulihkan. Hamba Tuhan digambarkan tidak berteriak atau memaksakan diri, bahkan terhadap yang rapuh pun ia bertindak penuh belas kasih: “buluh yang patah tidak diputuskannya dan sumbu yang pudar tidak dipadamkannya”. Inilah cara kerja Allah yang sering berbeda dari cara kerja manusia. Manusia cenderung menilai, menghakimi, atau bahkan “menghabisi” apa yang tampak lemah dan tidak berguna. Namun Tuhan justru mendekati dengan kelembutan, memulihkan yang hampir hancur, dan menjaga yang hampir padam. Dalam hidup sehari-hari, kita diajak meneladani sikap ini menjadi pribadi yang tidak menambah luka, tetapi menghadirkan pemulihan, terutama bagi mereka yang rapuh, gagal, atau kehilangan harapan. Kedua, Panggilan Menjadi Terang yang Membebaskan dan Memberi Harapan. Hamba Tuhan dipanggil bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata yang buta, dan membebaskan yang terbelenggu. Hidup yang berkenan kepada Tuhan selalu memiliki dimensi misioner: membawa terang ke dalam kegelapan. Terang bukanlah sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang membebaskan, menyembuhkan, dan memulihkan. Di tengah dunia yang penuh kebingungan, ketidakadilan, dan “kegelapan” dalam berbagai bentuk, kita pun dipanggil untuk menghadirkan terang melalui kasih, keadilan, dan keberanian untuk membawa kebenaran. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda