Selamat pagi, selamat hari Minggu Palma dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 29 Maret 2026. Keteguhan Dalam Penderitaan (Yesaya 50:4-7). 50:4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. 50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. 50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. 50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari Minggu ini, Yesaya 50:4–7: Pertama, Ketaatan Mendengarkan Melahirkan Perkataan yang Menguatkan. Nabi menggambarkan dirinya sebagai seorang murid yang setiap pagi dipertajam pendengarannya oleh Tuhan. Ada ritme rohani yang indah: sebelum berbicara, ia terlebih dahulu belajar mendengar. Dari kedalaman mendengar, lahirlah kata-kata yang mampu menguatkan yang letih lesu. Sering kita ingin cepat berbicara, memberi nasihat, atau menanggapi situasi, tetapi lupa untuk terlebih dahulu berdiam dan mendengarkan suara Tuhan. Kepekaan rohani merupakan hasil latihan mendengarkan Tuhan setiap saat. Dengan demikian kata-kata yang benar-benar menghidupkan bukan berasal dari kepintaran, melainkan dari hati yang setiap hari dibentuk oleh Tuhan. Kedua, Keteguhan dalam Penderitaan. Sosok Hamba Yahwe dalam bacaan ini tidak menghindari penderitaan: ia rela dipukul, dihina, bahkan diludahi, namun tidak mundur atau memberontak. Keteguhannya bukan karena kekuatan diri, melainkan karena keyakinannya bahwa Tuhanlah penolong yang akan membenarkannya. Ia “meneguhkan hati seperti gunung batu” karena percaya tidak akan dipermalukan. Dalam hidup, kita sering ingin lari dari penderitaan atau ketidaknyamanan, tetapi firman ini mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan terkadang justru membawa kita melewati jalan yang sulit. Di tengah kesulitan, ada kepastian: Tuhan tidak meninggalkan. Ketika kita berpegang pada-Nya, kita dimampukan untuk tetap teguh, bahkan di saat paling berat sekalipun. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda