Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 27 Maret 2026. Tuhanlah Perlindungan (Yeremia 20:10-13). 20:10 Aku telah mendengar bisikan banyak orang: Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia! Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia! 20:11 Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! 20:12 Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 20:13 Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 7:10–13: Pertama, Tuhanlah Perlindungan. Yeremia dikelilingi oleh orang-orang yang berniat jahat, termasuk sahabat karibnya sendiri. Meski demikian, Yeremia menemukan penghiburan bahwa “TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah.” Bacaan ini mengingatkan kita bahwa bahkan ketika dikhianati atau difitnah oleh orang-orang terdekat, kita tidak sendirian. Allah hadir sebagai pelindung yang membuat rencana jahat musuh menjadi sia-sia. Dalam kehidupan zaman ini, pengkhianatan bisa datang dalam bentuk gosip, manipulasi, atau tekanan sosial. Kepercayaan pada penyertaan Tuhan memberi ketenangan dan keyakinan bahwa Allah melihat semua dan menegakkan keadilan-Nya. Kedua, Menyerahkan Pembalasan kepada Allah. Yeremia berkata: “kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” Alih-alih membalas sendiri, Yeremia menyerahkan pengadilan kepada Tuhan yang adil dan mahatahu. Yeremia mengajarkan bahwa ketenangan batin tidak datang dari membalas dendam, melainkan dari iman bahwa Allah akan menegakkan keadilan pada waktu-Nya. Dalam praktiknya, menyerahkan pembalasan kepada Tuhan berarti melepaskan kemarahan, kebencian, dan keinginan membalas dendam yang bisa merusak hati kita. Dengan demikian, kita bisa tetap bersyukur, memuji Tuhan, dan melihat karya-Nya yang membebaskan “nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.” Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda