Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 23 Maret 2026. Kebenaran Selalu Berseru kepada Allah (Daniel 13:41-62). Dan 13:41 Ia tidak mau memberitahu kami. Inilah kesaksian kami. Himpunan rakyat percaya akan mereka, oleh karena mereka adalah orang tua-tua di antara rakyat dan hakim. Lalu hukuman mati dijatuhkannya kepada Susana. Dan 13:42 Maka berserulah Susana dengan suara nyaring: Allah yang kekal yang mengetahui apa yang tersembunyi dan yang mengenal sesuatu sebelum terjadi, Dan 13:43 Engkaupun tahu pula bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku. Sungguh, aku mati meskipun tidak kulakukan sesuatupun dari apa yang mereka bohongi aku. Dan 13:44 Maka Tuhan mendengarkan suaranya. Dan 13:45 Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya, maka Allah membangkitkan roh suci dari seorang anak muda, Daniel namanya. Dan 13:46 Berserulah ia dengan suara nyaring: Aku ini tidak bersalah terhadap darah perempuan itu! Dan 13:47 Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya: Apakah maksudnya yang kaukatakan itu? Dan 13:48 Danielpun lalu berdiri di tengah-tengah mereka, katanya: Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel? Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti? Dan 13:49 Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini! Dan 13:50 Bergegas-gegas kembalilah rakyat lalu orang-orang tua itu berkata kepada Daniel: Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami. Sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua. Dan 13:51 Lalu kata Daniel kepada orang-orang yang ada di situ: Pisahkanlah mereka berdua itu jauh-jauh, maka mereka akan kuperiksa. Dan 13:52 Setelah mereka dipisahkan satu sama lain maka Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya: Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kauperbuat Dan 13:53 dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum orang yang tidak bersalah dan melepaskan orang yang bersalah, meskipun Tuhan telah berfirman: Orang yang tak bersalah dan orang benar janganlah kaubunuh. Dan 13:54 Oleh sebab itu, jika engkau sungguh-sungguh melihat dia, katakanlah: Di bawah pohon apakah telah kaulihat mereka bercampur? Sahut orang tua-tua itu: Di bawah pohon mesui. Dan 13:55 Kembali Daniel berkata: Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri! Sebab malaikat Allah sudah menerima firman dari Allah untuk membelah engkau! Dan 13:56 Setelah orang itu disuruh pergi Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya. Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu: Hai keturunan Kanaan dan bukan keturunan Yehuda, kecantikan telah menyesatkan engkau dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu. Dan 13:57 Kamu sudah biasa berbuat begitu dengan puteri-puteri Israel dan merekapun terpaksa menuruti kehendakmu karena takut. Tetapi puteri Yehuda ini tidak mau mendukung kefasikanmu! Dan 13:58 Oleh sebab itu, katakanlah kepadaku: Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur? Sahut orang tua-tua itu: Di bawah pohon berangan. Dan 13:59 Kembali Daniel berkata: Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya membinasakan kamu! Dan 13:60 Maka berseru-serulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring. Mereka memuji Allah yang menyelamatkan siapa saja yang berharap kepada-Nya. Dan 13:61 Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu, sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu. Lalu mereka diperlakukan sebagaimana mereka sendiri mau mencelakakan sesamanya. Dan 13:62 Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Daniel 13:41–62: Pertama, Kebenaran Selalu Berseru kepada Allah. Susana berada dalam situasi di mana kebohongan didukung oleh otoritas. Suara para tua-tua lebih dipercaya daripada suara kebenaran, dan secara manusiawi ia tidak memiliki pembela. Dalam posisi seperti itu, manusia sering tergoda untuk putus asa atau membenarkan diri dengan cara-cara yang keliru. Namun Susana memilih jalan yang berbeda: ia tidak berdebat panjang, melainkan berseru kepada Allah yang mengetahui yang tersembunyi. Sebab kebenaran sejati tidak bergantung pada pengakuan manusia, tetapi pada pengetahuan Allah. Dalam hidup sehari-hari, ada saat-saat ketika kita disalahpahami, dihakimi secara tidak adil, atau bahkan difitnah. Tidak semua situasi bisa kita luruskan dengan kekuatan sendiri. Pada saat seperti itu kita diundang untuk memiliki keberanian iman: tetap setia pada kebenaran dan mempercayakan pembelaan kepada Allah. Tuhan tidak buta terhadap ketidakadilan Ia mendengar seruan yang tulus, bahkan ketika dunia menutup telinga. Kedua, Allah Bekerja Melalui Keberanian yang Tidak Terduga. Ketika semua orang menerima keputusan yang salah, Allah membangkitkan seorang muda, Daniel, untuk menghentikan praktek ketidakadilan. Ia bukan tokoh utama dalam struktur saat itu, bahkan tidak memiliki posisi seperti para tua-tua. Namun justru melalui keberaniannya untuk bersuara dan berpikir jernih, kebenaran disingkapkan. Allah tidak selalu bekerja melalui mereka yang dianggap “berkuasa” atau “berpengalaman”, tetapi melalui siapa saja yang mau taat dan berani berdiri di pihak kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari, sering orang enggan bersuara karena merasa kecil, tidak berwenang, atau takut berbeda dari mayoritas. Diam dalam ketidakadilan bisa berarti membiarkan kebohongan menang. Keberanian Daniel mengingatkan bahwa satu suara yang jujur, bila dipakai oleh Tuhan, dapat mengubah keputusan yang salah dan menyelamatkan kehidupan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda