Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 21 Maret 2026. Kepolosan yang Terluka (Yeremia 11:18-20). 11:18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku. 11:19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi! 11:20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 11:18–20: Pertama, Kepolosan yang Terluka. Nabi Yeremia menyadari bahwa dirinya seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih. Yeremia tidak tahu bahwa ada rencana jahat terhadap dirinya. Gambaran ini menunjukkan bahwa kepolosan dan ketulusan hati yang justru sering menjadi sasaran kejahatan. Yang menarik, ketika kebenaran itu disingkapkan, Yeremia tidak tenggelam dalam kepahitan atau keputusasaan. Ia memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan yang membuka segala sesuatu. Dalam hidup sehari-hari, manusia sering mengalami kekecewaan ketika kepercayaan dikhianati. Firman ini mengajak manusia untuk tidak kehilangan ketulusan hati bila disakiti, tetapi tetap berakar dalam kepercayaan kepada Tuhan yang sanggup melakukan segala yang baik. Kedua, Menyerahkan Perkara kepada Keadilan Tuhan. Yeremia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan menyerahkan seluruh perkaranya kepada Tuhan yang menghakimi dengan adil dan menguji batin serta hati manusia. Yeremia percaya bahwa keadilan Tuhan melampaui keadilan manusia. Memang ada godaan besar untuk membalas atau mencari keadilan dengan cara sendiri, tetapi Yeremia menunjukkan jalan yang berbeda: jalan penyerahan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia diajak untuk belajar melepaskan keinginan membalas dendam dan mempercayakan segala luka dan ketidakadilan kepada Tuhan. Penyerahan ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan iman yang percaya bahwa Tuhan tidak pernah lalai menegakkan kebenaran pada waktu-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda