Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 20 Maret 2026. Kehadiran Orang Benar (Kebijaksanaan 2:1a,12-22). 2:1a Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab seseorang yang kembali dari dunia orang mati tidak dikenal. 2:12 Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. 2:13 Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan. 2:14 Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. 2:15 Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. 2:16 Kita dianggap olehnya sebagai orang yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah 2:17 Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. 2:18 Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. 2:19 Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. 2:20 Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan. 2:21 Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. 2:22 Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kebijaksanaan 2:1a, 12–22: Pertama, Kesesatan Berawal dari Cara Pandang yang Salah tentang Hidup. Orang-orang fasik dalam bacaan ini memulai dengan keyakinan bahwa hidup itu singkat, menyedihkan, dan tanpa harapan setelah kematian. Cara pandang ini membuat mereka kehilangan makna hidup sejati, sehingga segala tindakan mereka berpusat pada kepentingan diri dan kenikmatan sesaat. Dari pikiran yang keliru lahirlah keputusan yang keliru: mereka melihat orang benar sebagai ancaman, bukan sebagai terang. Akar kejahatan sering pertama-tama muncul dari cara manusia memandang hidup, Allah, dan tujuan akhir hidupnya. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia diajak untuk memeriksa kembali cara pandangnya: apakah ia melihat hidup hanya sebatas kehidupan di dunia ini, atau sebagai perjalanan menuju kepenuhan bersama Allah. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap hidup yang benar pula. Kedua, Kehadiran Orang Benar. Orang benar dalam bacaan ini dibenci bukan karena ia berbuat jahat, tetapi karena hidupnya berbeda dan mencerminkan kebenaran. Kehadirannya menjadi “cermin” yang tanpa kata menyingkapkan kesalahan orang lain. Reaksi orang fasik yang memilih untuk menindas dan menguji orang benar menunjukkan bahwa hati yang tertutup lebih memilih menyingkirkan kebenaran daripada bertobat. Namun di balik itu, tersirat juga misteri iman: kesetiaan pada kebenaran sering mengundang penderitaan, tetapi justru di sanalah keaslian iman diuji. Dalam hidup sehari-hari, manusia diajak untuk tidak takut hidup benar meskipun ditolak atau disalahpahami, karena kesetiaan kepada Allah tidak pernah sia-sia. Pada akhirnya, kebenaran tidak ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh Allah yang mengetahui kedalaman hati. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda