Pengampunan Radikal
...

Pengampunan Radikal

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 07 Maret 2026. Pengampunan Radikal (Mikha 17:14-15,18-20). 7:14 Gembalakanlah umat-Mu 1 dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. 7:15 Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban! 7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? 7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. 7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Mikha 7:14–20: Pertama, Iman Bertumbuh dari Ingatan akan Karya Tuhan. Nabi berseru, “Gembalakanlah umat-Mu… seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir.” Doa ini tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari memori kolektif tentang pembebasan dari Mesir. Ketika bangsa itu berada dalam keterpurukan, mereka tidak hanya memohon pertolongan mereka mengingat siapa Tuhan mereka dan apa yang telah Tuhan lakukan. Mengingat karya Tuhan di masa lalu bukan sekadar nostalgia rohani, tetapi merupakan fondasi pengharapan. Jika Tuhan pernah membelah laut dan menuntun bangsa itu di padang gurun, tentu Tuhan tetap sanggup bertindak pada hari ini. Iman sering diperbarui bukan dengan pengalaman baru, tetapi dengan menghidupkan kembali kesadaran akan kesetiaan Tuhan di masa lampau. Di tengah keadaan yang terasa “terpencil,” seperti kawanan domba di rimba, umat diajak untuk kembali melihat Tuhan sebagai Gembala. Tuhan tidak berubah tangan yang sama yang dahulu menuntun, masih memegang tongkat pada hari ini. Kedua, Pengampunan Radikal. “Siapakah Allah seperti Engkau… yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya?” Inilah puncak pengenalan akan karakter Tuhan: Tuhan berkenan kepada kasih setia. Murka-Nya nyata, tetapi murka tersebut bukanlah tujuan akhir-Nya. Hal ini nampak dalam ungkapan: Tuhan “melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” Dosa dilemparkan-Nya ke kedalaman yang tak terjangkau. Pengampunan Tuhan sempurna. Tuhan tidak mengungkit dosa yang telah diampuni-Nya untuk menghukum kembali. Tuhan setia pada perjanjian-Nya dengan Yakub dan Abraham, janji yang diikat dengan sumpah. Artinya, kasih Tuhan tidak bergantung pada konsistensi manusia, tetapi pada kesetiaan-Nya sendiri. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda