Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 05 Maret 2026. Tuhan Menilai Hati (Yeremia 17:5-10). 17:5 Beginilah firman TUHAN: Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. 17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. 17:9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? 17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 17:5–10: Pertama, Sumber Kepercayaan Menentukan Ketahanan Hidup. Tuhan membentangkan dua gambaran yang kontras: semak bulus di padang belantara dan pohon yang ditanam di tepi air. Perbedaannya bukan pada panasnya matahari atau kerasnya musim kering, tetapi pada sumber airnya. Orang yang mengandalkan manusia—termasuk kekuatannya sendiri—digambarkan seperti semak di tanah hangus. Ia hidup, tetapi rapuh. Ia ada, tetapi tidak bertumbuh. Sebaliknya, orang yang mengandalkan Tuhan seperti pohon berakar dalam. Panas tetap datang, tahun kering tetap terjadi, tetapi ia tidak layu dan tetap berbuah. Iman bukan jaminan bebas dari musim sulit, melainkan jaminan akan adanya sumber yang tidak perenah mengering. Ketika akar hidup tertanam dalam Tuhan, keadaan luar tidak lagi menjadi penentu utama kestabilan batin. Yang membedakan bukan badai atau terik, melainkan tempat kita menancapkan kepercayaan. Kedua, Hati adalah Medan Pertempuran yang Hanya Tuhan Sanggup Menyelaminya. Firman Tuhan berkata, “Betapa liciknya hati…” Hati manusia bisa menipu diri sendiri—merasa percaya kepada Tuhan, padahal diam-diam bersandar pada hal lain. Kita bisa tampak kuat secara rohani, tetapi sesungguhnya batin sedang menjauh. Tuhan menegaskan, “Aku yang menyelidiki hati, yang menguji batin.” Ia tidak hanya melihat tindakan luar, tetapi motivasi terdalam. Ia mengenal akar sebelum buahnya tampak. Ini sekaligus merupakan peringatan dan penghiburan. Peringatan, karena tidak ada kepalsuan yang tersembunyi bagi-Nya. Penghiburan, karena tidak ada pergumulan hati yang luput dari perhatian-Nya. Tuhan bukan hanya menilai hasil, tetapi memahami proses dan arah hati. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda