Penolakan Kebenaran dalam Kemasan Religius
...

Penolakan Kebenaran dalam Kemasan Religius

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 04 Maret 2026. Penolakan Kebenaran dalam Kemasan Religius (Yeremia 18:18-20). 18:18 Berkatalah mereka: Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya! 18:19 Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku! 18:20 Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 18:18–20: Pertama, Penolakan Kebenaran dalam Kemasan Religius. Orang-orang berkata, “Imam tidak akan kehabisan pengajaran… nabi tidak akan kehabisan firman.” Artinya, mereka merasa tidak membutuhkan Yeremia. Mereka menganggap sistem keagamaan sudah cukup. Ironisnya, justru di tengah kelimpahan “pengajaran” itulah suara kebenaran hendak dibungkam. Penolakan mereka bukan dengan pedang, tetapi dengan strategi: “Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri.” Mereka ingin menjatuhkan Yeremia melalui kata-kata, memelintir ucapannya, dan mengabaikan pesannya. Kebenaran sering tidak diserang secara frontal, melainkan dilemahkan melalui manipulasi dan pengabaian. Ada pelajaran penting di sini: keberlimpahan aktivitas rohani tidak selalu berarti keterbukaan terhadap suara Tuhan. Hati yang keras bisa tetap merasa religius, tetapi menolak teguran ilahi. Kedua, Hati yang Terluka Tetap Memilih Berseru kepada Tuhan. Yeremia tidak membalas dengan konspirasi tandingan. Yeremia berseru, “Perhatikanlah aku, ya TUHAN.” Yeremia membawa luka dan kekecewaannya langsung kepada Allah. Ia mengingatkan Tuhan bahwa ia pernah berdiri membela bangsa itu, memohon agar murka Tuhan disurutkan dari mereka. Kini justru mereka menggali lubang untuknya. Pertanyaan Yeremia, “Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan?” merupakan jeritan hati seorang hamba yang merasa dikhianati. Namun ia tidak berhenti melayani atau meninggalkan panggilannya ia menyerahkan keadilan kepada Tuhan. Di sini kita belajar bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu berbuah apresiasi manusia. Kadang justru sebaliknya. Tanggapan yang benar bukanlah kepahitan, melainkan doa. Ketika kebaikan dibalas dengan kejahatan, tempat perlindungan terakhir dan terbaik tetaplah hadirat Tuhan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda