Identitas Rohani Ditentukan oleh Pilihan Hari ini
...

Identitas Rohani Ditentukan oleh Pilihan Hari ini

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 27 Februari 2026. Identitas Rohani Ditentukan oleh Pilihan Hari ini (Yehezkiel 18:21-28). 18:21 Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. 18:22 Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. 18:23 Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup? 18:24 Jikalau orang benar berbalik 2 dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik--apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya. 18:25 Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? 18:26 Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. 18:27 Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. 18:28 Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yehezkiel 18:21–28: Pertama, Identitas Rohani Ditentukan oleh Arah Hari Ini, Bukan Riwayat Kemarin. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan menyatakan sesuatu yang sangat radikal: orang fasik yang bertobat akan hidup, dan segala durhakanya tidak akan diingat lagi. Sebaliknya, orang benar yang berbalik kepada kejahatan akan mati, dan kebenarannya tidak diperhitungkan. Hal ini tentu mengguncang cara berpikir kita. Kita cenderung mengikat seseorang pada masa lalunya baik masa lalu yang buruk maupun yang baik. Namun Tuhan melihat arah, bukan arsip. Ia menilai posisi hati yang sekarang, bukan reputasi lama. Ada pengharapan besar di sini: tidak ada dosa yang terlalu berat untuk diampuni ketika pertobatan itu nyata. Tetapi ada juga peringatan yang serius: tidak ada kebaikan masa lalu yang bisa menjadi “tabungan keselamatan” jika hari ini kita hidup di dalam ketidaksetiaan. Keselamatan bukan sekadar sejarah iman, melainkan perjalanan yang terus diperbarui. Tuhan tidak memenjarakan kita dalam masa lalu, dan Tuhan juga tidak membiarkan kita bersembunyi di baliknya. Yang menentukan adalah: ke mana hati kita sedang terarah hari ini? Kedua, Keadilan Tuhan Selalu Selaras dengan Kerinduan-Nya untuk Menyelamatkan. Tuhan bertanya, “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” Pertanyaan retoris ini menunjukkan hati Allah yang sejati. Keadilan-Nya bukanlah hasrat untuk menghukum, melainkan komitmen untuk memulihkan. Ketika bangsa itu berkata, “Tindakan Tuhan tidak tepat,” Tuhan justru membalikkan cermin itu kepada mereka. Masalahnya bukan pada standar Allah, tetapi pada sikap manusia yang enggan bertobat namun ingin tetap hidup dalam berkat. Di sini kita belajar bahwa keadilan Allah selalu terbuka pada belas kasihan. Tuhan konsisten, tetapi juga penuh kerinduan agar manusia berbalik dan hidup. Hukuman bukanlah tujuan akhir hiduplah yang menjadi tujuan-Nya. Tuhan tidak menikmati kematian orang fasik. Tuhan mengundang orang fasik pada pertobatan. Tuhan tidak berat sebelah Tuhan adil terhadap yang bertobat dan adil terhadap yang memberontak. Dalam keadilan-Nya ada kasih, dan dalam kasih-Nya ada keseriusan terhadap dosa. Bacaan ini mengajak kita bukan untuk memperdebatkan keadilan Tuhan, tetapi untuk memeriksa arah hidup kita sendiri. Karena pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki bukanlah kematian, melainkan kehidupan yang lahir dari pertobatan yang sungguh. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda