Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 26 Februari 2026. Kolaborasi dalam Panggilan (Ester 4:10a,10c-12,17-19). 4:10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 4:11 Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja. 4:12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, 4:17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Ester 4:10–12,17: Pertama, Ketaatan di Tengah Risiko: Iman Tidak Menghapus Ketakutan, tetapi Mengalahkannya. Ester menyampaikan realitas yang sangat manusiawi: ada hukum yang tidak bisa ditawar. Siapa pun yang menghadap raja tanpa dipanggil akan dihukum mati, kecuali raja mengulurkan tongkat emas. Dan sudah tiga puluh hari ia tidak dipanggil. Artinya, Ester bukan sedang mencari-cari alasan ia sedang menyadari ancaman yang nyata. Ia adalah ratu, tetapi tetap terikat pada sistem yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Di sini kita melihat bahwa posisi, jabatan, atau kedekatan dengan pusat kuasa tidak menjamin keamanan. Bahkan di istana pun ada ketakutan. Namun justru di titik inilah iman diuji: bukan ketika semua aman, melainkan ketika melangkah berarti mempertaruhkan segalanya. Ketaatan sejati bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi keputusan untuk tetap melangkah meskipun takut. Tongkat emas belum terulur, tetapi kesetiaan harus lebih dulu diulur dari hati. Ada momen dalam hidup ketika kita tidak mendapat “panggilan resmi,” tidak ada jaminan hasil, namun kita tahu ada tanggung jawab ilahi yang menunggu untuk ditaati. Iman sering dimulai sebelum tanda keamanan diberikan. Kedua, Kolaborasi dalam Panggilan: Allah Bekerja Melalui Ketaatan yang Saling Menopang. Ketika pesan Ester disampaikan, Mordekhai tidak berdebat panjang. Ayat 17 mencatat dengan sederhana namun tegas: “Ia pergi dan melakukan tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.” Kesederhanaan kalimat ini menyimpan kedalaman rohani: panggilan besar tidak dijalankan sendirian. Ester membutuhkan Mordekhai. Mordekhai menghormati keputusan Ester. Ada dialog, ada penyampaian pesan, ada ketaatan yang saling terhubung. Dalam kisah ini, keselamatan sebuah bangsa tidak dimulai dari tindakan heroik satu orang saja, tetapi dari kesediaan dua pribadi untuk berjalan dalam perannya masing-masing. Sering kita menunggu tokoh besar, padahal Allah membangun karya-Nya melalui jejaring ketaatan. Ada yang berdiri di pelataran dalam, ada yang bergerak di luar istana. Ada yang berbicara kepada raja, ada yang menyampaikan pesan. Ketika setiap orang setia pada bagiannya, rencana Allah bergerak maju. Mordekhai tidak masuk istana, tetapi ia tetap berperan penting. Ester tidak berjalan sendirian, tetapi ia tetap harus mengambil keputusan pribadi. Di sini kita belajar bahwa ketaatan pribadi dan solidaritas rohani adalah dua sisi dari panggilan yang sama. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda