Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 24 Februari 2026. Firman Tidak Pernah Gagal (Yesaya 55:10-11). 55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kitab Yesaya 55:10–11: Pertama, Firman sebagai Siklus Ilahi: Dari Langit ke Hati, Kembali sebagai Buah. Hujan dan salju tidak pernah turun dengan tujuan yang dangkal. Ia turun diam-diam, meresap, menghilang dari pandangan, tetapi justru dalam “ketiadaan terlihat”-nya itu terjadi kehidupan. Demikian pula Firman Tuhan, sering bekerja dalam senyap, di bawah permukaan kesadaran kita. Kadang kita merasa bahwa Firman tidak langsung mengubah keadaan. Doa belum terjawab, karakter belum berubah, situasi belum membaik. Namun seperti air yang menyusup ke dalam tanah sebelum tampak tunas, Firman bekerja di kedalaman batin. Ia mengubah struktur hati sebelum mengubah keadaan luar. Yang menarik: hujan tidak kembali ke langit dalam bentuk yang sama. Ia kembali sebagai uap setelah terlebih dahulu menjadi sungai, buah, gandum, dan roti. Artinya, Firman yang turun dari Allah kembali kepada-Nya bukan sebagai “kata”, melainkan sebagai “hasil”, sebagai kehidupan yang berubah, iman yang bertumbuh, dan ketaatan yang berbuah. Kedua, Firman Tidak Pernah Gagal, Tetapi Kita Sering Salah Mengerti Bentuk Keberhasilannya. Teks ini tidak berkata bahwa Firman akan melakukan apa yang kita kehendaki. Ia akan melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Ada perbedaan besar antara keberhasilan menurut harapan manusia dan keberhasilan menurut maksud Ilahi. Benih yang diberikan kepada penabur berbeda dengan roti yang diberikan kepada mereka yang mau makan. Firman yang sama bisa menjadi: Benih yang sedang berproses, dibutuhkan penantian, diperlukan keikhlasan kerja keras, menghasilkan iman yang bertahan. Bisa juga Firman menjadi: Roti yang diberi untuk pemeliharaan, penghiburan, dan kekuatan hari ini. Sering kita meminta roti, tetapi Tuhan memberi benih. Kita ingin hasil instan, tetapi Tuhan sedang mempercayakan proses pertumbuhan kepada kita. Firman tidak pernah gagal, hanya saja keberhasilannya mungkin berbentuk musim tanam, bukan musim panen. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda