Ini Aku
...

Ini Aku

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 21 Februari 2026. “Ini Aku” (Yesaya 58:9-14). 58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan yang memperbaiki tembok yang tembus, yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni. 58:13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku apabila engkau menyebutkan hari Sabat hari kenikmatan, dan hari kudus TUHAN hari yang mulia apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, 58:14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yesaya 58:9–14: Pertama, “Ini Aku”. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyatakan janji yang sangat intim: “Engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab… Ia akan berkata: Ini Aku!” Tanggapan Tuhan dalam janji ini yang amat personal. Tuhan tidak sekadar jawaban doa, tetapi pernyataan kehadiran-Nya. Janji ini memiliki konteks yang jelas, yaitu: tidak lagi mengenakan kuk kepada sesama, tidak lagi menunjuk-nunjuk dan memfitnah, memberi kepada orang lapar dari apa yang kita sendiri inginkan dan memuaskan hati yang tertindas. Hal ini berarti, hadirat Tuhan mengalir melalui transformasi relasi sosial. Ketika kita berhenti menjadi beban bagi orang lain dan mulai menjadi berkat, maka pada saat itulah doa kita menemukan ruang terbuka di hadapan Allah. Di sini terdapat sebuah prinsip rohani yang mendalam: Tuhan mendekat kepada orang yang membuat dunia kecil di sekitarnya menjadi lebih adil dan penuh kasih. Sehingga Terang terbit dalam gelap dan kegelapan menjadi seperti rembang tengah hari. Tidak berarti masalah hilang, tetapi perspektif berubah. Terang Tuhan tidak selalu menghapus malam, tetapi mengubahnya menjadi ruang pengharapan. Kedua, Dari Jiwa yang Kering Menjadi Sumber Kehidupan dan Pemulihan Generasi. Di dalam perikope ini Tuhan berjanji untuk: menuntun senantiasa, memuaskan hati di tanah kering, membaharui kekuatan, menjadikan seperti taman yang diairi dan seperti mata air yang tidak mengecewakan. Di sini dapat dilihat hal yang kontras, yaitu tanah kering tetapi hati dipuaskan situasi tandus tetapi jiwa seperti taman. Hal ini menunjukkan bahwa kelimpahan sejati bukan tergantung pada kondisi eksternal, melainkan pada tuntunan dan pemeliharaan Tuhan. Lebih jauh, orang yang dipulihkan ini tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia menjadi: pembangun reruntuhan lama, pemulih dasar generasi, “yang memperbaiki tembok yang tembus” dan “yang membetulkan jalan supaya dapat dihuni”. Di sini dapat dipelajari bahwa spiritualitas sejati orang yang dipulihkan tidak hanya menyelamatkan pribadi, tetapi ia memulihkan struktur kehidupan bersama. Tetang Sabat, Tuhan menegaskan: Sabat bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi mengubah orientasi: menyebut hari Tuhan sebagai “kenikmatan”. Sabat mengajar bahwa: hidup bukan tentang produktivitas tanpa henti, manusia bukan mesin yang bernilai karena hasil, dan sukacita tertinggi adalah “bersenang-senang karena TUHAN.” Ketika ritme hidup diatur oleh penghormatan kepada Tuhan, Tuhan berjanji membuat kita “melintasi puncak bukit-bukit”, yang merupakan sebuah gambaran kemenangan atas kefanaan. Janji itu ditegaskan dengan kalimat yang tidak bisa digoyahkan: “Mulut Tuhanlah yang mengatakannya.” Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda