Dosa Bukan Takdir, tetapi Pilihan Relasional
...

Dosa Bukan Takdir, tetapi Pilihan Relasional

Minggu Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 15 Februari 2026. Minggu Biasa VI. Dosa Bukan Takdir, tetapi Pilihan Relasional (Sirakh 15:15-20). 15:15 Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih. 15:16 Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. 15:17 Hidup dan mati terletak di depan manusia, apa yang dipilih akan diberikan kepadanya. 15:18 Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan, la adalah kuat dalam kekuasaan-Nya dan melihat segala-galanya. 15:19 Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia la kenal. 15:20 Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari Minggu ini, Sirakh 15:15–20: Pertama, Kebebasan sebagai Martabat Ilahi. Dalam teks ini ditegaskan bahwa Allah menempatkan di hadapanmu (manusia) api dan air hidup dan mati, kesetiaan dan dosa. Yang mengejutkan adalah: Allah tidak memaksa manusia untuk memilih seturut kehendak-Nya, tetapi manusia bebas memilih seturut kehendak bebasnya. Orang sering membayangkan Allah sebagai pengatur mutlak yang menentukan segala sesuatu. Namun dalam Sirakh 15:15–20, justru terlihat Allah yang memberi ruang kebebasan. Kebebasan bukan celah kelemahan Tuhan, melainkan ungkapan kepercayaan Tuhan kepada manusia. Artinya, setiap keputusan sekecil apa pun yang dibuat oleh manusia jujur atau curang, sabar atau marah, setia atau kompromi, memiliki bobot kekal. Manusia tidak bisa menyalahkan takdir, keadaan, atau bahkan Tuhan atas pilihannya. Dengan demikian sesungguhnya, Sirakh mengoreksi mentalitas fatalisme: Ia tidak menyuruh seorang pun untuk berdosa. Kedua, Dosa Bukan Takdir, tetapi Pilihan Relasional. Dalam Sirakh 15:20 ditegaskan bahwa Tuhan tidak berkenan pada kefasikan dan tidak memerintahkan siapa pun untuk berdosa. Hal ini menyentuh akar relasi manusia dengan Allah. Sering manusia membenarkan dosa dengan berkata: “Saya memang begini.” Atau “Lingkungan yang membuat saya seperti ini.” Atau “Godaan terlalu kuat.” Atau “Sudah nasib.” Teks ini menghancurkan semua alasan itu. Dosa bukan hasil program ilahi atau skenario kosmis. Dosa adalah penyimpangan relasi yang dipilih oleh manusia sendiri.Api dan air bukan sekadar simbol moral, melainkan simbol konsekuensi: Api: kehancuran yang muncul dari pilihan menjauh dari Tuhan. Sedangkan Air: kehidupan yang mengalir dari kesetiaan. Yang menarik ialah Tuhan tidak mengawasi dengan sikap mencurigai, tetapi dengan kebijaksanaan penuh kasih. Tuhan “maha melihat”, bukan untuk menjebak, melainkan untuk meneguhkan keadilan. Di sini setiap pribadi diundang untuk menyadari bahwa setiap dosa selalu melukai relasi, bukan hanya sekadar melanggar aturan dan setiap ketaatan adalah jawaban cinta, bukan sekadar kewajiban hukum. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda