Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 10 Februari 2026. Doa sejati lahir dari kekaguman (1Raja-Raja 8:22-23,27-30). 8:22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, 8:23 lalu berkata: Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu. 8:27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 8:28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! 8:29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 8:30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Raja-raja 8:22–30: Pertama, Doa sejati lahir dari kekaguman. Salomo berdiri di hadapan mezbah dengan tangan terangkat, gestur ketergantungan total kepada Tuhan, lalu mengakui sesuatu yang mengejutkan: Allah yang ia sembah tidak mungkin dimuat oleh bangunan yang baru saja ia dirikan. Di tengah keberhasilan besar, Salomo menolak ilusi bahwa Tuhan kini “milik” Israel atau terikat pada rumah buatan manusia. Doa ini mengajar bahwa relasi dengan Allah tidak dimulai dari apa yang telah kita bangun bagi-Nya, tetapi dari kerendahan hati dan kekaguman akan kebesaran Allah. Iman menjadi murni ketika kita berani berkata: Tuhan jauh lebih besar daripada semua sistem keagamaan yang kita banggakan. Kedua, Allah yang tak terbatas, mendengar doa yang terbatas. Meskipun mengakui bahwa langit yang mengatasi segala langit tidak dapat memuat Allah, Salomo tetap memohon sesuatu yang intim: “Kiranya mata-Mu terbuka siang dan malam.” Di sinilah paradoks iman: Allah yang melampaui segalanya berkenan memberi perhatian pada doa yang dipanjatkan di satu tempat, oleh manusia yang rapuh. Puncak permohonan Salomo bukan kemakmuran atau kejayaan, melainkan pengampunan. Ini menyingkapkan kebesaran Allah Allah bukan hanya Allah yang besar, tetapi Allah yang mau mendengar dan memulihkan. Doa menjadi jembatan antara surga yang tak terjangkau dan hati manusia yang penuh luka. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda