Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 08 Februari 2026. Kepedulian merupakan jalan kesembuhan (Yesaya 58:7-10). 58:7 Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan nemfitnah, 58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari Minggu ini, Yesaya 58:7–10: Pertama, Kepedulian merupakan jalan kesembuhan. Dalam perikope ini Tuhan memulai dengan mengundang umat-Nya untuk melakukan tindakan yang sangat konkret: memecah roti, membuka rumah, memberi pakaian, dan berhenti bersembunyi dari sesama. Yang mengejutkan, tindak tersebut tidak hanya dampaknya sosial, tetapi personal: “lukamu akan pulih dengan segera.” Teks ini menyatakan bahwa banyak luka batin tidak sembuh hanya dengan doa, tetapi dengan kpedulian dan keterlibatan kasih. Ketika hidup kita berhenti berputar pada kebutuhan sendiri dan mulai berbagi, Allah bekerja memulihkan bagian terdalam dalam diri kita. Kepedulian merupakan jalan kesembuhan. Kedua, Terang hadir ketika relasi dipulihkan. Terang yang dijanjikan Allah muncul bukan setelah ibadah menjadi lebih megah, melainkan setelah relasi dengan sesama dipulihkan kuk dilepaskan, jari tuduhan diturunkan, dan fitnah dihentikan. Tuhan menghubungkan hadirat-Nya “Ini Aku!” dengan etika relasi, bukan dengan kesalehan simbolik. Gelap tidak selalu berarti ketiadaan Tuhan, sering gelap merupakan tanda relasi yang retak dengan sesama, dan juga dengan Allah. Ketika keadilan dan belas kasih dipulihkan, terang Allah menembus bahkan bagian hidup yang paling kelam. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda