Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 06 Februari 2026. Anugerah Pengampunan Lebih Besar dari Kesalahan (Sirakh 47:2-11). 47:2 Seperti lemak dipungut dari korban penghapus dosa, demikianlah Daud dipungut dari orang-prang Israel. 47:3 Singa-singa dipermajnkan olehnya seolah-olah kambing jantan belaka, dan beruang-beruang seakan-akan hanya anak domba saja. 47:4 Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa serta mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kebanggaan Goliat? 47:5 Sebab berserulah ia kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, sehingga Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ditinggikannya. 47:6 Maka dari itu ia dimuliakan karena laksaan, dan dipuji-puji oleh karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota yang mulia dipersembahkan kepadanya 47:7 Sebab ia membasmi segala musuh di kelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini. 47:8 Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata yang luhur menghormati Yang Kudus, Yang Mahatinggi. la bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengasihi Penciptanya. 47:9 Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dan memperindah lagu-lagunya dengan bunyinya. 47:10 Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar suara orang bertalun-talun di tempat kudus-Nya. 47:11 Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Ia pun memberinya perjanjian kerajaan, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel.
Renungan : Dua pokok permenungan yang daapt diambil dari bacaan hari ini, Sirakh 47:2–11: Pertama, Kepahlawanan Berakar pada Penyembahan. Daud digambarkan sebagai pahlawan yang mengalahkan singa, beruang, dan raksasa. Perikope ini dengan sengaja menempatkan sumber kekuatan Daud adalah seruannya kepada Tuhan Yang Mahatinggi dan bukan pada otot yang kuat atau keberanian manusiawi. Pedang dan umban hanyalah alat kekuatan sejati Daud lahir dari relasinya dengan Tuhan. Yang menarik, Daud tidak hanya dikenal sebagai pejuang di medan perang, tetapi juga sebagai penyembah di depan mezbah. Daud mampu memegang senjata dan kecapi dengan tangan yang sama. Inilah kepahlawanan yang utuh: keberanian yang tidak terpisah dari penyembahan. Kedua, Anugerah Pengampunan Lebih Besar dari Kesalahan. Puncak narasi ini bukan pada kemenangan Daud, melainkan pada kalimat yang mengejutkan: “Tuhan mengampuni segala dosanya.” Kitab ini tidak menutup mata terhadap kegagalan Daud, tetapi menekankan bahwa pengampunan Allah lebih besar dari noda dosa manusia. Daud dihormati bukan karena hidup tanpa cacat, melainkan karena Daud tidak pernah berhenti untuk kembali kepada Tuhan dengan nyanyian, pertobatan, dan hati yang mengasihi Penciptanya. Takhta yang kekal bukan diberikan kepada orang yang sempurna, tetapi kepada orang yang bersedia dibentuk oleh anugerah dan rahmat Tuhan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda