Berhenti Terjebak Pada Kegagalan Masa Lalu
...

Berhenti Terjebak Pada Kegagalan Masa Lalu

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 20 Januari 2026. Berhenti Terjebak Pada Kegagalan Masa Lalu (1Samuel 16:1-13). 16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku. 16:2 Tetapi Samuel berkata: Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku. Firman TUHAN: Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. 16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu. 16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: Adakah kedatanganmu ini membawa selamat? 16:5 Jawabnya: Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini. Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu. 16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya. 16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. 16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: Orang inipun tidak dipilih TUHAN. 16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: Orang inipun tidak dipilih TUHAN. 16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: Semuanya ini tidak dipilih TUHAN. 16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: Inikah anakmu semuanya? Jawabnya: Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba. Kata Samuel kepada Isai: Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari. 16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia. 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Samuel 16:1–13: Pertama, Berhenti Terjebak Pada Kegagalan Masa Lalu. Tuhan menegur Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?” Ini bukanlah teguran tanpa empati, melainkan panggilan untuk berhenti terjebak pada kegagalan masa lalu dan kembali melangkah dalam agenda Allah sendiri. Samuel berduka atas sesuatu yang sudah Tuhan tolak. Sering, manusia terus menangisi relasi, pelayanan, atau peran yang sudah berakhir, padahal Tuhan telah menyiapkan ‘pengurapan baru’. Duka yang terlalu lama dapat membuat manusia tertinggal dari karya Allah yang sedang bergerak ke depan. Kedua, Yang Tersembunyi Tidak Terlupakan di Hadapan Tuhan. Daud bahkan tidak dianggap cukup penting untuk dihadirkan sejak awal. Daud berada di padang, menggembalakan domba. Padang adalah tempat yang sunyi, jauh dari sorotan, dan tanpa reputasi. Justru di sanalah Tuhan telah membentuk hatinya. Pernyataan Tuhan, “TUHAN melihat hati,” menyingkapkan prinsip kerajaan Allah: panggilan tidak ditentukan oleh posisi, melainkan oleh kesiapan batin. Dunia memilih yang paling tampak Tuhan memilih yang paling siap hatinya. Daud diurapi bukan karena ia sempurna, melainkan karena hatinya selaras dengan kehendak Tuhan. Peristiwa ini sangat menghibur tetapi sekaligus menantang: kesetiaan dalam ketidaknampakan tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda