Keberanian dalam Doa: Menyelaraskan Kehendak
...

Keberanian dalam Doa: Menyelaraskan Kehendak

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 10 Januari 2026. Keberanian dalam Doa: Menyelaraskan Kehendak (1Yohanes 5:14-21). 5:14 Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. 5:15 Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. 5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa. 5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut. 5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. 5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. 5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. 5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 5:14-21: Pertama, Keberanian dalam Doa: Menyelaraskan Kehendak. Yohanes dalam perikope ini menegaskan keberanian untuk datang kepada-Nya dalam doa. Keberanian ini lahir dari pengenalan akan kebaikan hati Allah. Doa yang dijanjikan dikabulkan adalah doa yang menurut kehendak-Nya—bukan karena Allah enggan mendengar, melainkan karena Ia rindu membentuk kita agar menginginkan apa yang Ia kehendaki. Menariknya, Yohanes berkata bahwa ketika kita tahu Allah mendengar, kita tahu bahwa kita telah memperoleh apa yang kita minta, bahkan sebelum melihat jawabannya. Ini mengajarkan bahwa hasil terdalam doa bukan selalu perubahan situasi, melainkan ketenangan karena percaya bahwa Allah sedang bekerja. Doa menggeser pusat hidup kita: dari tuntutan pribadi menuju kepercayaan yang penuh ketaatan. Ketika kita berdoa bagi saudara yang jatuh dalam dosa, kita sedang mengambil bagian dalam karya pemulihan Allah. Doa syafaat menjadi jembatan hidup, bukan alat penghakiman. Kita dipanggil tidak untuk menentukan batas kasih Allah, tetapi untuk setia membawa sesama ke hadapan-Nya, sambil menyadari bahwa hanya Allah yang mengetahui kedalaman hati manusia. Kedua, Hidup dalam Yang Benar di Tengah Dunia yang Dikuasai Kejahatan (ayat 20). Yohanes dengan jujur menyingkapkan realitas kontras ini: kita berasal dari Allah, namun dunia berada di bawah kuasa si jahat. Orang percaya tidak hidup dalam ilusi bahwa dunia ini netral atau aman secara rohani. Namun di tengah kenyataan itu, ada penghiburan yang besar: Anak Allah telah datang dan melindungi mereka yang lahir dari Allah. Perlindungan ini bukan berarti kita kebal terhadap pencobaan, melainkan bahwa si jahat tidak berkuasa menentukan identitas dan masa depan kita. Kita hidup di dalam Yang Benar—sebuah posisi relasional, bukan sekadar status teologis. Mengenal Yang Benar berarti hidup dalam terang Kristus yang memberi pengertian, membedakan kebenaran dari kepalsuan, dan Allah dari berhala. Karena itu, pada bagian penutup Yohanes berbicara terasa sederhana namun tajam: “Waspadalah terhadap segala berhala.” Berhala adalah apa saja yang merebut tempat Allah di hati kita — bahkan hal baik yang menjadi absolut. Hidup kekal hanya ada di dalam Kristus maka kewaspadaan rohani adalah bentuk kasih setia kepada Allah yang benar dan hidup itu. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda