Kasih: Bukti Relasional
...

Kasih: Bukti Relasional

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 08 Januari 2026. Kasih: Bukti Relasional (1Yohanes 4:19-5:4). 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 4:20 Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 4:21 Dan perintah ini l kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. 5:1 Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. 5:2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. 5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 5:4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 4:19–5:4: Pertama, Kasih Bukan Klaim Rohani, Melainkan Bukti Relasional. “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (4:20). Kasih kepada Allah tidak pernah berhenti sebagai pernyataan iman atau pengalaman batin. Firman ini menyingkap bahwa relasi dengan Allah selalu diuji dalam relasi dengan sesama. Mengasihi Allah yang tidak kelihatan tanpa mengasihi saudara yang nyata adalah kontradiksi rohani iman yang kehilangan tubuhnya. Allah menempatkan saudara-saudari di sekitar kita, dengan segala perbedaan, kelemahan, dan potensi konflik, sebagai “ruang ujian kasih”. Di situlah ketulusan kasih kepada Allah diuji. Kasih yang sejati tidak memilih jalan yang mudah, tetapi hadir dalam kesabaran, pengampunan, dan kesediaan menjadi rendah hati. Kedua, Ketaatan sebagai Buah Kelahiran Baru, Bukan Beban Hukum. “Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (5:3). Banyak orang memandang ketaatan sebagai kewajiban yang menekan. Namun Yohanes menegaskan sebaliknya: ketaatan menjadi ringan karena kita telah lahir dari Allah. Kasih kepada Allah melahirkan keinginan untuk taat, bukan ketakutan untuk dihukum. Di sinilah letak keutamaan hidup baru di dalam Kristus. Kemenangan atas dunia (5:4) tidak dicapai lewat kekuatan manusia, tetapi melalui iman yang mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Kristus. Dunia menawarkan nilai, ambisi, dan cinta yang semu, tetapi iman memberi kemampuan untuk berkata “tidak” pada dunia dan “ya” pada kehendak Allah. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda