Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 07 Januari 2026. Kasih sebagai Wajah Allah (1Yohanes 4:11-18). 4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 4:11–18: Pertama, Kasih sebagai “Wajah Allah” yang Terlihat di Dunia. “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita” (ay. 12). Allah yang tidak kelihatan memilih untuk menjadi kelihatan melalui kasih yang dihidupi oleh umat-Nya. Dengan kata lain, dunia “melihat” Allah tidak melalui konsep, argumen, atau simbol keagamaan, melainkan melalui relasi yang dipenuhi kasih. Ketika kita mengasihi—terutama dalam situasi yang sulit, tidak nyaman, atau tidak menguntungkan—kita sedang menjadi ruang di mana Allah menyatakan diri-Nya. Jika kasih kita selektif, bersyarat, atau berhenti ketika disakiti, maka kesaksian tentang Allah yang mengasihi menjadi kabur. Namun ketika kasih tetap mengalir dalam situasi apa pun, Allah sendiri sedang hadir dan bekerja melalui hidup kita. Kedua, Kasih yang Sempurna Mengubah Ketakutan Menjadi Keberanian “Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (ay. 18). Ketakutan sering muncul dari bayangan akan hukuman, penolakan, atau kegagalan. Firman pada ayat ini menegaskan bahwa ketakutan bukan terutama pada masalah keberanian mental, melainkan kedalaman relasi dan tinggal di dalam kasih Allah. Semakin seseorang yakin akan kasih Allah yang menerima dan menyelamatkan, semakin ia dibebaskan dari ketakutan—bahkan akan penghakiman. Keberanian pada hari penghakiman (ay. 17) terbentuk melalui kesatuan hidup dengan Kristus: “sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.” Hidup yang dibentuk oleh kasih sekarang adalah persiapan terbaik untuk masa depan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda