Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 31 Desember 2025. Krisis Iman: Proses Penyingkapan Keaslian Iman (1Yohanes 2:18-21). 2:18 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. 2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. 2:20 Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. 2:21 Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 2:18–21: Pertama, Krisis iman bukanlah tanda kegagalan Allah, melainkan proses penyingkapan keaslian iman. Munculnya “banyak antikristus” dan fakta bahwa mereka berasal dari tengah jemaat menunjukkan bahwa bahaya terbesar iman sering datang bukan dari luar, melainkan dari dalam komunitas itu sendiri. Yohanes menegaskan bahwa perpisahan itu justru menyingkapkan siapa yang sungguh berakar dalam kebenaran dan siapa yang tidak. Iman sejati tidak diukur dari kedekatan awal atau lamanya waktu keterlibatan dalam kegiatan gereja, melainkan dari ketekunan untuk tetap tinggal dalam kebenaran. Dalam terang ini, kegoncangan gereja bukan akhir cerita, melainkan momen pemurnian. Kedua, Pengurapan dari Yang Kudus membentuk kepekaan rohani untuk membedakan kebenaran dan kepalsuan. Yohanes mengingatkan bahwa umat yang percaya tidak dibiarkan tanpa perlindungan rohani. Pengurapan dari Yang Kudus pekerjaan Roh Allah, memberi kemampuan untuk mengenali kebenaran, tidak saja secara intelektual, tetapi secara rohani. Karena kebenaran berasal dari Allah, maka dusta tidak pernah dapat bersatu dengan kebenaran. Kenyataan ini menyadarkan setiap orang percaya untuk hidup dalam kewaspadaan: tidak mudah terpesona oleh klaim rohani, tetapi setia pada kebenaran yang telah diterima dan dihidupi. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda