Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 30 Desember 2025. Kasih kepada dunia adalah persaingan arah hidup (1Yohanes 2:12-17). 2:12 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. 2:13 Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. 2:14 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. 2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 2:12–17: Pertama, Kedewasaan rohani ditentukan oleh kedalaman relasi dan keteguhan melawan kejahatan. Yohanes menyapa “anak-anak, bapa-bapa, dan orang-orang muda” bukan sekadar sebagai kelompok umur, melainkan sebagai tahap rohani. Anak-anak hidup dari kepastian pengampunan dan pengenalan akan Bapa bapa-bapa berakar pada pengenalan akan Allah yang kekal dan tidak berubah orang-orang muda bertumbuh dalam kekuatan firman dan kemenangan atas yang jahat. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan iman mencakup kepolosan yang diampuni, kedalaman yang mengenal, dan keberanian yang berjuang. Gereja yang sehat bukan hanya yang banyaknya aktivitas, tetapi Gereja yang memelihara seluruh spektrum kedewasaan rohani ini. Kedua, Kasih kepada dunia adalah persaingan arah hidup, bukan sekadar larangan moral. Larangan untuk mengasihi dunia bukan berarti menolak kehidupan, melainkan menolak pusat nilai yang bertentangan dengan Allah. Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup adalah daya tarik dunia yang membentuk identitas semu apa yang diinginkan, dilihat, dan dibanggakan. Yohanes menegaskan bahwa dunia dan segala hasratnya bersifat sementara, sedangkan melakukan kehendak Allah menempatkan hidup dalam kekekalan. Dengan demikian, iman menuntut pemilihan arah hidup, yaitu hidup digerakkan oleh apa yang akan lenyap, atau oleh kehendak Allah yang memberi makna abadi. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda