Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 29 Desember 2025. Terang dan Gelap Diukur dari Relasi Kasih (1Yohanes 2:2-11). 2:3 Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. 2:4 Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. 2:5 Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. 2:7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 2:8 Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 2:9 Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. 2:10 Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 2:11 Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 2:3–11: Pertama, Pengenalan Akan Allah dalam Ketaatan Membentuk Cara Hidup. Perikope ini menegaskan bahwa “mengenal Allah” bukan status rohani yang cukup diucapkan, tetapi realitas yang dibuktikan melalui ketaatan dalam hidup sehari-hari. Ketaatan bukanlah sekadar mematuhi aturan. Ketaatan merupakan proses di mana kasih Allah “disempurnakan” dalam diri seseorang. Artinya, relasi dengan Allah bersifat transformasional: semakin seseorang hidup menurut firman, semakin nyata kasih Allah membentuk karakter dan tindakannya, sampai hidupnya mencerminkan hidup Kristus sendiri. Kedua, Terang dan Gelap Diukur dari Relasi Kasih. Rasul Yohanes menggeser ukuran kerohanian dari pengalaman batin atau pengakuan iman ke sikap konkret terhadap sesama. Mengasihi saudara menjadi bukti seseorang hidup dalam terang, sedangkan kebencian, sekecil apa pun, menunjukkan bahwa ia masih berada dalam kegelapan. Dengan demikian, terang bukan hanya soal mengetahui kebenaran, tetapi berjalan dalam kasih yang menjaga arah hidup. Tanpa kasih, seseorang bisa merasa “diterang” namun sebenarnya sedang tersesat dan dibutakan secara rohani. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda