Menghormati Orang Tua adalah Ibadah yang Menyentuh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan
...

Menghormati Orang Tua adalah Ibadah yang Menyentuh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 28 Desember 2025. Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosef. Menghormati Orang Tua adalah Ibadah yang Menyentuh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan (Putra Sirahk 3:2-6,12-14). 3:2 Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, 3:3 3:4 dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. 3:5 Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. 3:6 Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya 3:12 Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. 3:13 Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. 2:14 Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Sirakh 3:2-6,12-14: Pertama, Menghormati Orang Tua adalah Ibadah yang Menyentuh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan. Teks ini menyingkapkan dimensi yang jarang disadari: menghormati orang tua bukan hanya sebuah kewajiban etis, tetapi tindakan rohani yang memulihkan yang dikaitkan dengan penghapusan dosa, doa yang dikabulkan, dan umur panjang. Yang menarik, dampaknya tidak berhenti pada relasi anak–orang tua, tetapi mengalir ke generasi berikutnya: orang yang menghormati orang tuanya akan mengalami sukacita melalui anak-anaknya sendiri. Cara kita memperlakukan orang tua hari ini sedang membentuk berkat atau luka bagi generasi di masa depan. Kedua, Kasih Sejati Teruji Ketika Orang Tua Menjadi Lemah. Sirakh menempatkan ujian kasih bukan saat orang tua masih berdaya, melainkan ketika mereka menua, melemah, dan bahkan kehilangan kejernihan akal. Mengampuni, bersabar, dan tidak merendahkan orang tua pada masa kerapuhan mereka disebut sebagai kebaikan yang “tidak terlupa” di hadapan Allah. Di sini, kehormatan bukan soal kata-kata, tetapi kesetiaan dalam kelemahan. Dunia menghargai kekuatan dan kemandirian, tetapi Allah menghargai kesabaran dalam merawat yang rapuh. Semoga kita mampu melihat orang tua kita bukan sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk mempraktikkan kasih Allah yang setia sampai akhir. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda