Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 27 Desember 2025. Persekutuan Sejati Mengalir dari Kehidupan yang Dibagi (1Yohanes 1:1-4). 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. 1:2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. 1:3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 1:4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Yohanes 1:1–4: Pertama, Iman Kristen Berakar pada Pengalaman Nyata. Penulis tidak memulai dengan teori atau konsep rohani, melainkan dengan pengalaman yang sangat konkret: didengar, dilihat, disaksikan, bahkan diraba. Firman yang hidup tidak disampaikan sebagai ide filsafat, tetapi sebagai Pribadi yang hadir dalam ruang dan waktu. Hal ini menegaskan bahwa iman Kristen bukan pelarian dari realitas, melainkan perjumpaan dengan Allah yang masuk ke dalam realitas kehidupan manusia.Sampai di sini, kita perlu bertanya: Apakah iman kita berhenti sebagai pengetahuan tentang Allah, ataukah iman itu sudah menjadi pengalaman hidup bersama Kristus yang membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak? Kesaksian yang hidup lahir dari perjumpaan yang nyata dan pengalaman iman akan Tuhan, bukan sekadar hafalan kebenaran. Kedua, Persekutuan Sejati Mengalir dari Kehidupan yang Dibagi. Tujuan pewartaan bukan hanya supaya orang “tahu”, tetapi supaya mereka masuk ke dalam persekutuan dengan sesama orang percaya, dan dengan Bapa dan Anak-Nya Yesus Kristus. Menariknya, sukacita menjadi sempurna bukan ketika kebenaran dimiliki sendiri, melainkan ketika hidup itu dibagikan dan orang lain turut mengambil bagian di dalamnya. Firman ini mengingatkan kita bahwa sukacita rohani mencapai kepenuhannya ketika hidup Kristus mengalir melalui kita kepada orang lain, dan membangun persekutuan yang berakar pada Allah sendiri. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda