Selamat pagi, selamat Pesta Natal dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 25 Desember 2025. Reruntuhan Menjadi Panggung Pewahyuan Allah (Yesaya 52:7-10). 52:7 Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: Allahmu itu Raja! 52:8 Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion. 52:9 Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem. 52:10 TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yesaya 52:7–10: Pertama, Kabar Baik Membuat Langkah Menjadi Indah. Firman ini tidak berkata betapa indahnya wajah atau suara pembawa berita, melainkan kakinya. Keindahan lahir dari kesediaan melangkah mendaki bukit, menempuh jarak, dan menanggung lelah untuk membawa kabar damai. Keindahan rohani sering muncul bukan dari kenyamanan, tetapi dari ketaatan yang bergerak. Pesan yang dibawa sangat sederhana namun radikal: “Allahmu itu Raja!” Di tengah reruntuhan dan pembuangan, berita ini mengubah cara umat memandang kenyataan. Damai dan keselamatan tidak datang karena situasi membaik, tetapi karena Tuhan kembali memerintah. Pertanyaannya bagi kita: kabar apa yang kita bawa melalui langkah hidup kita keluhan, ketakutan, atau pengakuan bahwa Allah tetap Raja? Kedua, Reruntuhan Menjadi Panggung Pewahyuan Allah. Menarik bahwa sorak-sorai tidak pertama-tama muncul dari kota yang telah dipulihkan, melainkan dari reruntuhan Yerusalem. Tempat yang paling hancur justru menjadi lokasi penghiburan dan penebusan. Tuhan tidak menunggu keadaan sempurna untuk menyatakan keselamatan-Nya Tuhan menyatakan tangan-Nya yang kudus tepat di tengah puing-puing. Lebih dari itu, pemulihan Sion merupakan peristiwa publik. “Segala ujung bumi melihat keselamatan dari Allah kita.” Luka yang disembuhkan Tuhan menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa. Dengan demikian, reruntuhan hidup kita bukan hanya objek belas kasihan Allah, tetapi dapat menjadi panggung kemuliaan-Nya, tempat dunia melihat bahwa keselamatan sungguh berasal dari Tuhan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda