Kita adalah Sukacita Hati Tuhan
...

Kita adalah Sukacita Hati Tuhan

Selamat pagi, selamat menyambut Malam Natal nan Kudus dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 24 Desember 2025. Kita Adalah Sukacita Hati Tuhan (Yesaya 62:1-5). 62:1 Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. 62:2 Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. 62:3 Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan TUHAN dan serban kerajaan di tangan Allahmu. 62:4 Engkau tidak akan disebut lagi yang ditinggalkan suami, dan negerimu tidak akan disebut lagi yang sunyi, tetapi engkau akan dinamai yang berkenan kepada-Ku dan negerimu yang bersuami, sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. 62:5 Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.

Renungan : Dua pokok permenungan yang diambil dari bacaan hari ini, Yesaya 62:1–5: Pertama, Tuhan yang Tidak Dapat Berdiam Diri. Perikope ini dibuka dengan pernyataan yang mengejutkan: “Aku tidak dapat berdiam diri.” Bukan manusia yang berteriak meminta pertolongan, melainkan Tuhan sendiri yang gelisah demi Sion. Pemulihan umat bukan sekadar kebutuhan manusia, tetapi hasrat hati Tuhan. Tuhan tidak tenang, karena itu Tuhan tidak dapat berdiam diri sebelum kebenaran bersinar dan keselamatan menyala seperti suluh. Pemulihan Tuhan bukan hanya soal kondisi, tetapi identitas. Nama-nama lama: “ditinggalkan”, “sunyi” dihapus, digantikan dengan nama baru yang Tuhan sendiri tetapkan. Tuhan mengajak kita untuk merenungkan bahwa sering kita masih hidup di dengan label lama yang sudah ditinggalkan Tuhan. Tuhan bekerja sampai cara kita melihat diri kita sendiri selaras dengan cara-Nya memanggil kita. Kedua, Kita adalah Sukacita Hati Tuhan. Gambaran puncaknya sangat personal: Tuhan bukan hanya Penebus, tetapi Mempelai yang bersukacita. Umat bukan sekadar dipulihkan untuk kembali berfungsi, melainkan untuk dikasihi dan dibanggakan. Seperti mahkota di tangan Tuhan, nilai Sion bukan terletak pada apa yang ia lakukan, tetapi pada siapa yang memegangnya. Hal ini menantang pola pikir rohani yang kering: kita sering merasa diterima Tuhan karena kesalehan. Tidak! Sejak awal Tuhan bersukacita atas kita umat-Nya. Relasi dengan Tuhan bukan relasi dingin antara Raja dan hamba, melainkan relasi perjanjian yang penuh sukacita. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah kegirangan hati Tuhan, ibadah tidak lagi dilakukan karena kewajiban, tetapi karena cinta. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda