Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin 22 Desember 2025. Iman yang Dewasa: Melepaskan (1Samuel 1:24-28). 1:24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. 1:25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli 1:26 lalu kata perempuan itu: Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. 1:27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. 1:28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN 3 . Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Samuel 1:24–28: Pertama, Iman yang Dewasa Tidak Melekat, tetapi Melepaskan. Hana membawa Samuel ke rumah TUHAN ketika ia “masih kecil betul.” Di sini tersingkapkan kedewasaan iman yang jarang ditemukan: iman yang tidak hanya bersukacita saat menerima jawaban atas doa, tetapi juga kesetiaan ketika harus melepaskan hasil doa itu sendiri. Banyak orang berdoa dengan sungguh, tetapi diam-diam berharap kepemilikan penuh atas berkat yang diterima. Hana justru menunjukkan bahwa berkat sejati bukan untuk dimiliki, melainkan dikembalikan kepada Sumbernya. Melepaskan Samuel bukanlah kehilangan, tetapi pengakuan bahwa hidup anak itu sejak awal memang milik TUHAN. Kedua, Penyembahan yang Sejati Lahir dari Ketaatan yang Mahal. Penyembahan dalam perikop ini tidak dimulai dari nyanyian, tetapi dari tindakan ketaatan yang mahal harganya: perjalanan ke Silo, korban persembahan, dan penyerahan seorang anak yang sangat dikasihi. Menariknya, teks ditutup dengan kalimat, “Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.” Artinya, penyembahan adalah puncak dari ketaatan, bukan penggantinya. Hana mengajarkan bahwa penyembahan sejati bukan sekadar ekspresi emosi rohani, melainkan respons hati yang tunduk secara total setelah melakukan kehendak Allah, sekalipun itu menyentuh hal yang paling berharga dalam hidupnya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda