Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Minggu, 21 Desember 2025. Tanda Allah Hadir dalam Kesederhanaan (Yesaya 13:10-14). 7:10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 7:11 Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas. 7:12 Tetapi Ahas menjawab: Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN. 7:13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 7:10–14: Pertama, Allah Berdaulat Bahkan Saat Manusia Menolak. Dalam teks ini, Allah membuka ruang dialog dengan Ahas: “Mintalah suatu pertanda.” Ahas menolak dan Ahas menutup diri untuk berdialog dengan Allah. Allah tidak menghentikan firman-Nya. Justru pada saat seperti itulah, Allah melanjutkan inisiatif-Nya sendiri. Hal ini menyingkapkan kebenaran penting: rencana Allah tidak bergantung pada tanggapan ideal manusia. Ketika manusia memilih diam, defensif, atau acuh, Allah tetap berbicara dan bertindak sesuai kehendak-Nya. Imanuel lahir bukan karena iman Ahas, melainkan karena kesetiaan Allah terhadap janji-Nya kepada keluarga Daud. Keselamatan bersumber dari kedaulatan Allah, bukan dari kualitas iman manusia. Kedua, Tanda Allah Hadir dalam Kesederhanaan. Dalam konteks krisis politik dan ancaman militer, Ahas mungkin mengharapkan tanda berupa kekuatan besar atau kemenangan strategis. Namun Allah justru memilih tanda yang sangat sederhana dan sunyi: seorang perempuan muda yang mengandung dan melahirkan seorang anak. Allah sering menentang logika kekuasaan dengan cara yang lemah di mata dunia. Di tengah kegaduhan politik dan ketakutan sosial, Allah memperkenalkan harapan melalui kehidupan baru, bukan senjata baru. Hal ini mengajak kita untuk melihat bahwa Allah sering bekerja paling dalam melalui peristiwa yang tampak biasa, tetapi sarat makna kekal. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda