Tanda Allah tidak selalu Menjawab Keraguan, tetapi Menyatakan Kehadiran
...

Tanda Allah tidak selalu Menjawab Keraguan, tetapi Menyatakan Kehadiran

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Sabtu, 20 Desember 2025. Tanda Allah tidak selalu Menjawab Keraguan, tetapi Menyatakan Kehadiran (Yesaya 7:10-14). 7:10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 7:11 Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas. 7:12 Tetapi Ahas menjawab: Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN. 7:13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yesaya 7:10–14: Pertama, Ketika Kesalehan Menjadi Topeng bagi Ketidakpercayaan. Ahas menolak tawaran Tuhan untuk meminta tanda dengan alasan yang terdengar rohani: “Aku tidak mau mencobai TUHAN.” Namun di balik kesalehan kata-katanya, tersembunyi hati yang sudah memutuskan untuk bersandar pada kekuatan lain. Penolakan ini bukan tanda kerendahan hati, melainkan bentuk ketidakpercayaan yang dibungkus dengan bahasa iman. Perikop ini menantang kita untuk jujur dalam relasi dengan Allah: apakah kita sungguh bergantung pada-Nya, ataukah kita hanya menggunakan bahasa rohani untuk menutupi ketakutan dan agenda pribadi? Tuhan lebih berkenan pada kejujuran iman yang rapuh daripada kesalehan palsu yang menutup diri terhadap karya-Nya. Kedua, Tanda Allah tidak selalu Menjawab Keraguan, tetapi Menyatakan Kehadiran. Menariknya, meski Ahas menolak, Allah tetap memberikan tanda bukan sesuai permintaan manusia, melainkan menurut kehendak-Nya sendiri: Imanuel, “Allah beserta kita.” Inilah tanda terbesar dari Allah bukan untuk meredakan kecemasan manusia, melainkan sebagai jaminan akan kehadiran-Nya di tengah ketidakpastian. Allah ingin dikenal melalui penyertaan-Nya. Dalam situasi genting dan sulit, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah jawaban instan, melainkan kepastian bahwa Allah tetap hadir dan setia berjalan bersama kita umat-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda