3:1 Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan! 3:2 Ia tidak mau mendengarkan teguran siapapun dan tidak mempedulikan kecaman kepada TUHAN ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap. 3:9 Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. 3:10 Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku. 3:11 Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. 3:12 Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, 3:13 yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Zefanya 3:1β13: Pertama, Pertobatan Dimulai dari Cara Kita Mendengar dan Berbicara. Dalam ayat 2 dan 9 dikatakan: βIa tidak mau mendengarkan teguran siapapun dan tidak mempedulikan kecaman kepada TUHAN ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap. Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu.β Dalam ayat 2, Tuhan mencela kota yang tuli yang tidak mau mendengar teguran, tidak percaya kepada Tuhan, dan tidak menghadap Allah. Penolakan untuk mendengar akhirnya melahirkan penindasan dan kebohongan. Namun Allah menjanjikan pemulihan yang dimulai dari sesuatu yang sangat mendasar: bibir yang bersih (ay. 9). Hal ini menegaskan bahwa pertobatan sejati bukan sekadar perubahan struktur atau ritual, melainkan perubahan hati yang tercermin dalam kata-kata cara kita memanggil nama Tuhan, berkata jujur, dan beribadah bersama. Tuhan memulihkan manusia dari dalam ke luar: telinga yang mau mendengar, bibir yang dimurnikan, lalu hidup yang selaras dengan kehendak-Nya. Kedua, Allah Menghapus Aib dengan Merendahkan Kita. Dalam ayat 11-13, Allah menjanjikan untuk membersihkan Israel dari aib. Janji Tuhan terasa sangat paradoksal: rasa malu akibat pemberontakan dihapus bukan dengan pembenaran diri, tetapi dengan penyingkiran kesombongan (ay. 11). Yang disisakan justru umat yang rendah hati dan lemah (ay. 12). Di mata dunia, sisa ini tampak kecil dan tidak berdaya, tetapi di mata Allah merekalah yang aman karena dilindungi Tuhan seperti domba yang berbaring tanpa takut (ay. 13). Pemulihan ilahi bukan soal kembali berjaya, melainkan kembali bergantung pada Allah. Allah membangun masa depan-Nya bukan di atas kecongkakan religius, melainkan pada umat yang mencari perlindungan hanya pada nama TUHAN. Sesungguhnya, Allah menghancurkan kesombongan untuk menyelamatkan, dan memurnikan suara umat-Nya agar dunia mendengar siapa Allah itu sebenarnya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda