Kesetiaan sebagai Tindakan Publik, Bukan Sekadar Keyakinan Pribadi
...

Kesetiaan sebagai Tindakan Publik, Bukan Sekadar Keyakinan Pribadi

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Kamis, 20 Nopember 2025. Kesetiaan sebagai Tindakan Publik, Bukan Sekadar Keyakinan Pribadi (1 Makabe 2:15-29). 2:15 Kemudian para pegawai raja yang bertugas memaksa orang-orang Yahudi murtad datang ke kota Modein untuk menuntut pengorbanan. 2:16 Banyak orang Israel datang kepada mereka. Adapun Matatias serta anak-anaknya berhimpun pula. 2:17 Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias: Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat saudara. 2:18 Baiklah saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi penetapan raja, sebagaimana telah dilakukan semua bangsa, bahkan orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tertinggal di Yerusalem. Kalau demikian, niscaya saudara serta anak-anak saudara termasuk ke dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah! 2:19 Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang: Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda, 2:20 namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. 2:21 Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. 2:22 Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri! 2:23 Matatias belum lagi selesai mengucapkan perkataan tadi maka seorang Yahudi sudah tampil ke muka di depan umum untuk mempersembahkan korban di atas perkorbanan di kota Modein menurut penetapan raja. 2:24 Melihat itu Matatias naik darah dan gentarlah hatinya serta meluap-luaplah geramnya yang tepat. Disergapnya orang Yahudi itu dan digoroknya di dekat perkorbanan itu. 2:25 Petugas raja yang memaksakan korban itu dibunuhnya pula pada saat itu juga. Kemudian perkorbanan itu dirobohkannya. 2:26 Serupalah kerajinannya untuk hukum Taurat itu dengan apa yang telah dilakukan dahulu oleh Pinehas kepada Zimri bin Salom. 2:27 Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein: Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya ia mengikuti aku! 2:28 Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya. 2:29 Kemudian turunlah ke padang gurun banyak orang yang mencari kebenaran dan keadilan.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Makabe 2:15-29: Pertama, Kesetiaan sebagai Tindakan Publik, Bukan Sekadar Keyakinan Pribadi. Matatias memperlihatkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan bukan sekadar urusan batin yang tersembunyi, melainkan suatu sikap yang menuntut keberanian untuk tampil di ruang publik, terutama ketika tekanan, ancaman, atau iming-iming keuntungan duniawi datang dari otoritas tertinggi sekalipun. Pegawai raja menawarkan kehormatan, status, dan kelimpahan materi namun Matatias menolak semua itu karena memahami bahwa ketaatan sejati tidak dapat diperdagangkan. Teks ini menantang kita untuk melihat bahwa iman baru terbukti ketika hidup memaksakan kita untuk memilih antara integritas dan kenyamanan. Kesetiaan sejati bukan sekadar apa yang kita ucapkan, tetapi keberanian untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Kedua, Ketaatan yang Melahirkan Komunitas Baru: Dari Penolakan Individual ke Gerakan Kolektif. Tindakan Matatias tampak sebagai aksi pribadi: ia menolak titah raja dan merobohkan mezbah. Namun dampaknya justru menjadi titik kelahiran sebuah komunitas baru orang-orang yang “rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian” berkumpul dan mengikuti dia, meninggalkan kenyamanan kota demi keadilan dan kebenaran. Kadang pembaruan rohani atau moral tidak dimulai dari institusi besar, tetapi dari satu tindakan setia yang radikal, yang menyalakan keberanian di hati orang lain. Gerakan besar sering lahir dari benih kecil: keputusan seseorang untuk berdiri teguh ketika yang lain memilih diam. Teks ini menegaskan bahwa ketika seseorang dengan tulus mengejar yang benar, ia tidak hanya menyelamatkan dirinya tetapi sekaligus membuka tempat perlindungan bagi mereka yang selama ini diam, takut, atau mencari arah. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda