Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Kamis, 13 Nopember 2025. Kebijaksanaan sebagai Nafas Allah (Kebijaksanaan 7:22 – 8:1). 7:22 Sebab di dalam dia ada roh yang arif dan kudus, tunggal, majemuk dan halus, mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda, terang, tidak dapat dirusak, suka akan yang baik dan tajam, 7:23 tidak tertahan, murah hati dan sayang akan manusia, tetap, tidak bergoyang dan tanpa kesusahan, mahakuasa dan memelihara semuanya serta menyelami sekalian roh, yang arif, murni dan halus sekalipun. 7:24 Sebab kebijaksanaan lebih lincah dari segala gerakan, karena dengan kemurniannya ia menembusi dan melintasi segala-galanya. 7:25 Kebijaksanaan adalah pernafasan kekuatan Allah, dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa. Karena itu tidak ada sesuatupun yang bernoda masuk ke dalamnya. 7:26 Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya. 7:27 Meskipun tunggal namun kebijaksanaan mampu akan segala-galanya, dan walaupun tinggal di dalam dirinya, namun membaharui semuanya. Dari angkatan yang satu ke angkatan yang lain ia beralih masuk ke dalam jiwa-jiwa yang suci, yang olehnya dijadikan sahabat Allah dan nabi. 7:28 Tiada sesuatupun yang dikasihi Allah kecuali orang yang berdiam bersama dengan kebijaksanaan. 7:29 Sebab ia adalah lebih indah dari pada matahari, dan mengalahkan setiap tempat bintang-bintang. 7:30 Berbanding dengan siang terang dialah yang unggul, sebab siang digantikan malam, sedangkan kejahatan tak sampai menggagahi kebijaksanaan. 8:1 Dengan kuat ia meluas dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan halus memerintah segala sesuatu.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kebijaksanaan Salomo 7:22–8:1: Pertama, Kebijaksanaan sebagai Nafas Allah: Keheningan yang Menghidupkan Segala Sesuatu. Dalam ayat 25 dikatakan, “Kebijaksanaan adalah pernafasan kekuatan Allah, dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa.” Gagasan ini begitu mendalam — kebijaksanaan bukan sekadar pengetahuan moral atau kecerdikan, melainkan nafas Allah sendiri yang menghidupkan ciptaan. Nafas berarti kehidupan, gerak, dan kehadiran yang lembut namun tak terhentikan. Artinya, setiap kali manusia membuka diri pada kebijaksanaan sejati, ia sedang menghirup kehidupan ilahi, menyerap sesuatu yang berasal langsung dari Diri Allah. Jadi, keheningan, keterbukaan hati, dan kemurnian batin bukanlah kelemahan, melainkan cara untuk menyelaraskan napas kita dengan napas Allah. Kedua, Kebijaksanaan: Gerak Ilahi yang Mengatasi Batas Waktu dan Kekacauan. Dalam ayat 27–8:1 digambarkan kebijaksanaan sebagai “tunggal namun mampu akan segala-galanya,” “membaharui semuanya,” dan “meluas dari ujung yang satu ke ujung yang lain, memerintah segala sesuatu dengan halus.” Di sini, kebijaksanaan digambarkan sebagai kekuatan kosmik yang dinamis — tidak kaku seperti hukum, tetapi lembut dan hidup seperti arus yang tak terhentikan. Ia hadir di dalam perubahan, bahkan dalam kerusakan, sebagai daya pembaruan yang terus bekerja diam-diam. Kebijaksanaan bukan sekadar memahami dunia, tetapi mengalir di dalamnya, menyatukan yang tampak bertentangan: kekuatan dan kelembutan, keteraturan dan kelenturan, keabadian dan pembaruan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda