Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Rabu, 12 Nopember 2025. Kesetiaan di Tengah Kerusakan (Kebijaksanaan 6:1-11). 6:1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, 6:2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. 6:3 Berfirmanlah TUHAN: Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja. 6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. 6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, 6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 6:7 Berfirmanlah TUHAN: Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. 6:8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. 6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. 6:10 Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. 6:11 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kejadian 6:1–11: Pertama, Keindahan yang Tidak Disucikan Dapat Menjadi Awal Kejatuhan. Dalam ayat 2 diceritakan bahwa “anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri siapa saja yang disukai mereka.” Dalam ayat ini ditunjukkan bahwa keindahan, yang sejatinya adalah refleksi atau cermin kemuliaan Sang Pencipta, berubah menjadi sumber godaan dan ketidakteraturan. Hal ini terjadi ketika keinginan manusiawi tidak disucikan dan manusia memandang kecantikan tanpa kebijaksanaan rohani. Keindahan, kekuatan, atau karunia apapun akan kehilangan makna kesuciannya ketika dipisahkan dari orientasi kepada Allah. Apa yang awalnya adalah anugerah, bisa menjadi sumber kehancuran jika dikuasai oleh nafsu dan bukan oleh kasih. Kedua, Kesetiaan di Tengah Kerusakan: Nuh sebagai Titik Harapan Allah. Ketika seluruh bumi “penuh dengan kekerasan” (ayat 11) dan hati manusia “selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (ayat 5), Tuhan menemukan satu sosok Nuh yang selalu bergaul dengan-Nya. Dalam situasi serba sulit, bahkan di tengah dunia yang rusak, Allah masih mencari manusia yang mau bergaul dengan-Nya. Kehidupan Nuh merupakan satu bentuk kehidupan yang berpegang teguh pada kebenaran dapat menjadi poros harapan bagi seluruh ciptaan. Nuh tidak hanya diselamatkan dari air bah, tetapi melalui ketaatannya, Nuh menjadi sarana keselamatan bagi dunia yang baru. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda