Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Selasa, 11 Nopember 2025. Keabadian sebagai Identitas Asli Manusia (Kebijaksanaan 2:23-3:9). 2:23 Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. 2:24 Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu. 3:1 Tetapi jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka. 3:2 Menurut pandangan orang bodoh mereka mati nampaknya, dan pulang mereka dianggap malapetaka, 3:3 dan kepergiannya dari kita dipandang sebagai kehancuran, namun mereka berada dalam ketenteraman. 3:4 Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, namun harapan mereka penuh kebakaan. 3:5 Setelah disiksa sebentar mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi diri-Nya. 3:6 Laksana emas dalam dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya, lalu diterima bagaikan korban bakaran. 3:7 Maka pada waktu pembalasan mereka akan bercahaya, dan laksana bunga api berlari-larian di ladang jerami. 3:8 Mereka akan mengadili para bangsa dan memerintah sekalian rakyat, dan Tuhan berkenan memerintah mereka selama-lamanya. 3:9 Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang unik dan mendalam dari Kebijaksanaan 2:23–3:9: Pertama, Keabadian sebagai Identitas Asli Manusia. Ayat 23 menyingkapkan kebenaran mendasar ini: “Allah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri.” Ini berarti hakikat terdalam manusia bukanlah kefanaan, melainkan keabadian. Manusia diciptakan bukan sekadar untuk hidup di dunia, tetapi untuk berpartisipasi dalam hidup Allah sendiri, Sang Sumber yang tak pernah binasa. Namun ayat 24 menambahkan kontras tragis: maut masuk karena dengki setan. Artinya, kematian bukan bagian dari rancangan Allah, tetapi buah dari hasrat yang menolak cinta dan kebenaran. Diri sejati bukanlah tubuh yang akan binasa, melainkan roh yang ditiupkan oleh Allah. Setiap kali kita membiarkan iri, kebencian, atau keangkuhan menguasai hati, kita sedang memilih “menjadi milik maut.” Sebaliknya, setiap kali kita mencintai dengan murni, kita sedang kembali pada hakikat kekal yang Allah tanamkan sejak awal. Kedua, Penderitaan: Api yang Memurnikan dan Menyatakan Kemuliaan. Ayat 4–6 menyajikan paradoks rohani: “Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, namun harapan mereka penuh kebakaan… laksana emas dalam dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya.” Penderitaan bukan tanda penolakan Allah, melainkan proses pemurnian yang menyingkapkan siapa kita sebenarnya. Api penderitaan tidak membakar jiwa orang benar melainkan menyingkirkan kotoran ego, hingga yang tersisa hanyalah kemurnian kasih. Pada akhirnya (7–8), mereka yang telah dimurnikan akan “bercahaya seperti bunga api di ladang jerami” dan “memerintah bersama Tuhan.” Ungkapn ini menggambarkan kebangkitan sebagai penyataan kemuliaan dari dalam diri yang telah melewati api ujian. Dunia melihat kematian dan penderitaan sebagai kehancuran, tetapi bagi orang benar, penderitaan merupakan proses kelahiran ke dalam terang. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda