Kasih Sebagai “Utang Yang Tak Pernah Lunas”
...

Kasih Sebagai “Utang Yang Tak Pernah Lunas”

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Rabu, 5 Nopember 2025. Kasih Sebagai “Utang Yang Tak Pernah Lunas” (Roma 13:8-10). 13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 13:8–10: Pertama, Kasih sebagai “utang yang tak pernah lunas”. Dalam ayat 8, Paulus berkata: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.” Paulus menggunakan bahasa ekonomi untuk menggambarkan realitas rohani: kasih adalah satu-satunya utang yang tidak pernah selesai dibayar. Semua kewajiban duniawi bisa diselesaikan, tetapi kewajiban untuk mengasihi tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Setiap hari, kasih menuntut “pembayaran” baru, bukan karena kita belum cukup mengasihi, melainkan karena kasih sejati selalu bertumbuh dan mencari bentuk baru untuk menghidupi kebaikan. Ingatlah! Hidup dalam kasih bukan soal mencapai titik cukup, tetapi soal terus hidup dalam arus anugerah yang mengalir tanpa akhir. Orang yang berhenti mengasihi berarti merasa telah “melunasi” sesuatu yang sebenarnya tak pernah habis. Kedua, Kasih sebagai tafsir terdalam dari hukum. Dalam ayat 10, Paulus berkata: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Paulus tidak meniadakan hukum, tetapi menyingkapkan jantungnya: kasih adalah roh yang memberi makna pada setiap perintah. Tanpa kasih, “jangan mencuri” hanya menjadi larangan kering dengan kasih, larangan itu menjadi undangan untuk menghormati milik sesama. Kasih bukan sekadar mematuhi hukum, melainkan menggenapi, membawa hukum kepada tujuan akhirnya: relasi yang benar antara manusia dan manusia, manusia dan Allah. Ketaatan sejati lahir dari kasih yang mendalam kepada Allah dan sesama. Ketika kasih memimpin, hukum tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi kebebasan rohani. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda