Ketidaktaatan Manusia Menjadi Ruang bagi Kemurahan Allah
...

Ketidaktaatan Manusia Menjadi Ruang bagi Kemurahan Allah

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Senin, 3 Nopember 2025. Ketidaktaatan manusia menjadi ruang bagi kemurahan Allah (Roma 11:29-36). 11:29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 11:30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, 11:31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 11:32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. 11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! 11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? 11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 11:29–36: Pertama, Ketidaktaatan manusia menjadi ruang bagi kemurahan Allah. Dalam ayat 30-31, Paulus menulis: “Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.” Paulus menyingkapkan sesuatu yang mengejutkan: bahkan ketidaktaatan manusia pun tidak menggagalkan rencana Allah, tetapi justru menjadi jalan bagi kemurahan-Nya. Allah “mengurung semua orang dalam ketidaktaatan supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” Artinya, dosa dan kelemahan manusia bukan akhir cerita, tetapi awal dari kisah rahmat. Di dalam paradoks ini, kita belajar bahwa Allah tidak menolak manusia karena kegagalannya, melainkan memakai kegagalan itu untuk menyingkapkan kasih-Nya yang lebih dalam. Maka, setiap kali kita sadar akan dosa, kita dipanggil bukan untuk putus asa, tetapi untuk menyerahkan diri kepada kemurahan Allah yang memulihkan. Dalam terang ini, pertobatan bukanlah upaya manusia untuk memperbaiki diri, melainkan jawaban kasih terhadap Allah yang lebih dahulu mengasihi manusia dalam kerahiman. Kedua, Hikmat Allah melampaui logika manusia. Dalam ayat 33-36, Paulus menutup renungannya dengan seruan kekaguman: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! … Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.” Ini adalah pengakuan bahwa seluruh ciptaan dan sejarah manusia, termasuk kisah dosa dan penebusan, berasal dari sumber kasih yang sama, yakni Allah sendiri. Segala sesuatu akhirnya kembali kepada-Nya, karena hanya di dalam Dia hidup manusia menemukan maknanya. Pokok ini menantang kita untuk melepaskan dorongan untuk memahami Allah sepenuhnya dengan akal, dan sebaliknya beriman dengan hati yang takjub dan berserah. Dalam hidup sehari-hari, kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati: bahwa kita hanyalah bagian kecil dari rencana agung Allah yang tak terselami, dan karena itu, segala puji dan kemuliaan hanyalah bagi Dia, Sang Asal dan Tujuan segalanya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda