Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Minggu, 2 Nopember 2025. Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Doa sebagai Partisipasi dalam Penebusan (2 Makabe 12:43-46). 12:43 Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. 12:44 Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. 12:45 Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 2 Makabe 12:43–45: Pertama, Iman akan kebangkitan menembus batas kematian. Dalam ayat 44 dikatakan: “Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.” Tindakan Yudas Makabe yang mempersembahkan korban penghapus dosa bagi mereka yang telah gugur menunjukkan keyakinan mendalam bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan baru. Ia tidak memandang doa bagi orang mati sebagai sesuatu yang sia-sia, melainkan sebagai ungkapan iman bahwa kasih dan rahmat Allah melampaui kubur. Dalam terang peringatan arwah semua orang beriman, kita diajak untuk memperluas pandangan kita tentang kehidupan: bahwa doa, kasih, dan pengharapan tidak berhenti di batas kematian. Doa kita bagi arwah menjadi wujud solidaritas rohani yang menghubungkan Gereja di dunia, di api penyucian, dan di surga: satu tubuh Kristus yang tidak terpisahkan oleh waktu maupun maut. Kedua, Cinta yang bertanggung jawab: doa sebagai partisipasi dalam penebusan. Dalam ayat 45 dikatakan: “Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.” Yudas tidak berhenti pada belas kasihan sentimental terhadap mereka yang telah gugur, melainkan bertindak nyata dengan mempersembahkan korban penebus dosa bagi mereka. Di sini tampak bahwa iman yang sejati selalu berbuah dalam tindakan kasih yang bertanggung jawab. Dalam peringatan arwah, Gereja meneruskan semangat ini: mendoakan jiwa-jiwa bukan hanya karena belas kasihan, tetapi karena kita percaya bahwa melalui doa dan kurban, kita ikut ambil bagian dalam karya penebusan Kristus yang terus bekerja bagi pemurnian umat-Nya. Dengan demikian, peringatan arwah menjadi undangan bagi setiap kita orang beriman untuk menyucikan cinta kita, agar cinta itu tidak berhenti di dunia ini, tetapi menjadi saluran rahmat bagi mereka yang masih menantikan kepenuhan kasih Allah. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda