Mencuci Jubah Dalam Darah Anak Domba
...

Mencuci Jubah Dalam Darah Anak Domba

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Sabtu, 1 Nopember 2025. Hari Raya Semua Orang Kudus. Mencuci Jubah Dalam Darah Anak Domba (Wahyu 7:2-4,9-14). 7:2 Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, 7:3 katanya: Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka! 7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba! 7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 7:12 sambil berkata: Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin! 7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang? 7:14 Maka kataku kepadanya: Tuanku, tuan mengetahuinya. Lalu ia berkata kepadaku: Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Wahyu 7:2–14: Pertama, meterai di dahi adalah simbol identitas ilahi. Dalam ayat 2 dikatakan: “Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup.” Ketika malaikat muncul dari tempat matahari terbit dengan membawa meterai Allah yang hidup, terlihat adanya gambaran yang sangat kontras: di satu sisi ada ancaman kehancuran (bumi, laut, dan pohon-pohon), di sisi lain ada kelembutan penuh kuasa dari Allah yang menandai umat-Nya. Meterai yang hidup bukan sekadar tanda perlindungan, tetapi pernyataan tentang identitas bahwa di tengah dunia yang rusak dan akan dihakimi, ada sekelompok orang yang seluruh hidupnya telah “dimiliki” oleh Allah. Merekalah orang-orang kudus, “yang telah mencuci jubah mereka dalam darah Anak Domba” (ayat 14). Kedua, ekspansi kasih dan keselamatan Allah. Dalam ayat 4 dan 9 dikatakan: “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel….Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Di sini digambarkan bahwa, awalnya, Yohanes mendengar jumlah yang terbatas, yaitu 144.000 dari suku Israel, lambang kesempurnaan dan keteraturan umat Allah. Namun, ketika Yohanes melihat, yang tampak justru lautan manusia dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa. Ada pergeseran dari eksklusivitas ke inklusivitas, dari hanya bangsa Israel ke keluasan kasih Allah bagi seluruh umat manusia, bagi segala bangsa. Mungkin kita sering “mendengar” kasih Allah dalam bentuk yang terbatas, yaitu hanya untuk golongan tertentu, cara tertentu, atau gereja tertentu. Namun ketika kita benar-benar “melihat” dengan mata rohani, kita akan sadar bahwa kasih itu jauh melampaui batas-batas manusiawi kita. Keselamatan bukan milik kelompok tertentu saja. Keselamatan adalah milik setiap orang yang mau “mencuci jubahnya” dalam darah Anak Domba, sebagai simbol pertobatan, penyerahan, dan pembaruan hidup. Merekalah orang-orang kudus itu. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda