Kasih: Berani Menderita
...

Kasih: Berani Menderita

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Jumat, 31 Oktober 2025. Kasih: Berani Menderita (Roma 9:1-5). 9:1 Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, 9:2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. 9:3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. 9:4 Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. 9:5 Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 9:1–5: Pertama, Kasih: Berani Menderita. Dalam ayat 2-3, Paulus mengungkapkan kasihnya kepada orang-orang sebangsanya: “…aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. 9:3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Di sini, Paulus menyingkapkan sesuatu yang luar biasa: ia rela “terkutuk dan terpisah dari Kristus” demi keselamatan bangsanya. Ini bukan ekspresi berlebihan, melainkan luapan kasih yang telah dibentuk oleh kasih Kristus sendiri, kasih yang tidak berhenti di batas kenyamanan pribadi, tetapi berani memikul dukacita demi orang lain. Di sini kita melihat bahwa kasih sejati tidak berhenti pada pengharapan pribadi akan keselamatan, melainkan rindu agar yang lain pun mengenal Sang Juruselamat. Paulus menjadi cermin dari hati Allah yang rela kehilangan demi menyelamatkan. Kedua, Anugerah yang terlupakan. Dalam ayat 4, Paulus menulis: “Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.” Dalam ayat ini, Paulus menyebutkan kekayaan rohani yang luar biasa yang dimiliki bangsa Israel: pengangkatan sebagai anak, kemuliaan, perjanjian, Taurat, ibadah, dan janji-janji. Namun di balik daftar itu, tersimpan ironi yang menyakitkan mereka memiliki segala bentuk lahiriah dari kasih Allah, tetapi kehilangan inti-Nya, yaitu Kristus sendiri. Hal ini menjadi peringatan bagi kita bahwa kedekatan dengan hal-hal rohani tidak selalu berarti kedekatan dengan Allah. Anugerah bisa menjadi rutinitas jika kita lupa siapa sumbernya. Paulus menutup perikope ini dengan penyembahan: “Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.” Penyembahan sejati lahir ketika kita sadar betapa besar warisan kasih yang sering kita abaikan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda