Kasih Yang Tak Pernah Gagal
...

Kasih Yang Tak Pernah Gagal

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Kamis, 30 Oktober 2025. Kasih tak pernah gagal (Roma 8:31-39). 8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? 8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 8:36 Seperti ada tertulis: Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. 8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. 8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 8:31–39: Pertama, Allah di pihak kita. Dalam ayat 31, Paulus bertanya retoris: “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Melalui pertanyaan ini, Paulus mengajak kita untuk menatap realitas iman dari sudut pandang surgawi. Pernyataan: “jika Allah di pihak kita, siapa yang dapat melawan kita?” bukan sekadar pernyataan optimistis, melainkan pengakuan iman yang lahir dari pengalaman salib. Allah berpihak kepada kita dengan cara menyerahkan Anak-Nya sendiri. Inilah dasar kepastian orang percaya: kasih Allah bukanlah janji di kata-kata, melainkan perbuatan di salib. Karena itu, tidak ada gugatan atau tuduhan yang sah terhadap orang-orang pilihan-Nya, sebab Sang Hakim sendiri telah menjadi Pembela kita di sisi kanan-Nya. Kedua, kasih yang tak pernah gagal. Dalam ayat 35, Paulus menandaskan: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Paulus menggambarkan kekuatan kasih Kristus. Kasih tidak meniadakan penderitaan atau menghindari luka. Ungkapan Paulus di atas menjelaskan pengalaman kemenangannya di dalam kasih Kristus yang tidak pernah gagal. Kasih Kristus merupakan kekuatan yang membuat bahaya tidak mampu memisahkan kita dari Allah. Kasih itu lebih kuat dari maut, lebih luas dari waktu, dan lebih dalam dari kuasa mana pun. Ia tidak hanya menjaga kita agar tidak jatuh, tetapi menebus setiap kejatuhan menjadi bagian dari kemenangan kasih-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda