Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Rabu, 29 Oktober 2025. Saat Kelemahan Menjadi Bahasa Surgawi (Romo 8:26-30). 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini Roma 8:26–30: Pertama, saat kelemahan menjadi bahasa surgawi. Dalam ayat 26, Paulus menulis: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Dalam ayat ini, Paulus mengungkapkan misteri ilahi yang indah yaitu ketika manusia mencapai batasnya, tidak tahu harus berdoa apa, justru di situlah Roh Kudus mulai berbicara. Doa sejati ternyata bukan hasil kepintaran rohani, tetapi hasil persekutuan dalam kelemahan dalam Tuhan. Roh berdoa “dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan,” bukan karena Ia tidak sanggup berkata-kata, melainkan karena kedalaman kasih-Nya melebihi jangkauan kata manusia. Di sinilah kita melihat bahwa kelemahan bukan penghalang doa, tetapi ruang tempat Roh bekerja paling dalam. Kedua, Rencana Ilahi yang Tak Terputus: Dari Panggilan hingga Pemuliaan. Dalam ayat 28–30, Paulus menggambarkan perjalanan iman sebagai rantai kasih yang tidak terputus: dipilih, ditentukan, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Paulus ingin menegaskan bahwa kehidupan orang percaya bukanlah kebetulan, tetapi bagian dari rencana Allah yang mengarahkan segala sesuatu kepada kebaikan yang kekal. Yang menarik, “kebaikan” di sini bukan sekadar keberhasilan atau kenyamanan, melainkan menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Artinya, segala pengalaman, bahkan penderitaan diarahkan untuk membentuk kita semakin menyerupai Kristus. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda