Identitas Yang Ditemukan Dalam Persekutuan Kudus
...

Identitas Yang Ditemukan Dalam Persekutuan Kudus

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Selasa, 28 Oktober 2025. Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul. Identitas Yang Ditemukan Dalam Persekutuan Kudus (Efesus 219-22). 2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Efesus 2:19: Pertama, identitas yang ditemukan dalam persekutuan kudus. Dalam ayat 19-20, Paulus menandaskan: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Paulus menyingkapkan sebuah perubahan identitas yang luar biasa: dari “orang asing dan pendatang” menjadi “anggota keluarga Allah.” Ini bukan hanya perubahan status sosial rohaniah, tetapi transformasi eksistensial. Dalam Kristus, kita tidak lagi mencari tempat untuk diterima, sebab kita telah diterima di rumah-Nya sendiri. Yang menarik, ayat ini tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah, tetapi meluas ke arah komunitas kudus — “kawan sewarga dengan orang-orang kudus.” Artinya, iman yang sejati tidak bisa berjalan dalam isolasi ia selalu menemukan wujudnya dalam kebersamaan, dalam keluarga rohani yang berakar pada kasih. Kedua, Kristus Batu Penjuru. Dalam ayat 20, Paulus melanjutkan: “..yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Paulus menggambarkan gereja sebagai sebuah bangunan rohani yang sedang tumbuh — bukan bangunan mati dari batu, tetapi struktur hidup yang “rapih tersusun” karena Kristus menjadi batu penjurunya. Uniknya, dalam gambaran ini setiap orang percaya bukan sekadar “batu tambahan”, tetapi ruang tempat Allah berdiam. Roh Kudus tidak hanya mengikat kita satu sama lain, tetapi menjadikan kita bagian dari kehadiran Allah di dunia. Kalimat ini jelas menggambarkan bahwa Gereja tidak dibangun dalam keseragaman, melainkan oleh kesetiaan kepada pusat yang sama, yaitu Kristus sendiri. Tanpa batu penjuru itu, bangunan seindah apa pun akan roboh. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda