Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Minggu, 26 Oktober 2025. Doa menembus awan (Sirakh 35:12-14, 16-18). 35:12 Sebab Tuhan adalah Hakim, yang tidak memihak. 35:13 la tidak memihak dalam perkara orang miskin, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. 35:14 Jeritan yatim piatu tidak diabaikan-Nya, ataupun jeritan janda yang mencurahkan permohonannya. 35:16 Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. 35:17 Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya. 35:18 la tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kitab Yesus bin Sirakh (Sirakh) 35:12–18: Pertama, Tuhan hakim yang tidak memihak, tapi mendengar yang terluka. Sirakh 35:12–14 menegaskan bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil dan tidak memihak terutama kepada orang miskin. Ini tampaknya paradoksal: bagaimana mungkin Tuhan tidak memihak, tapi mendengarkan jeritan orang miskin, yatim, dan janda? Jawabannya: Tuhan tidak memihak secara korup (seperti manusia yang memihak karena uang atau kedudukan), tetapi berpihak secara benar, kepada mereka yang tertindas, karena keadilan-Nya menuntut pembelaan terhadap yang tak berdaya. Di sini kita diundang untuk memahami bahwa keadilan ilahi bukan tentang netralitas dingin, tetapi tentang cinta yang membela. Tuhan tidak membiarkan yang lemah terabaikan dan jeritan mereka tidak pernah dianggap kecil di hadapan-Nya, karena kasih-Nya menyatu dengan keadilan-Nya. Kedua, Doa yang Menembus Awan: Kuasa Ketekunan dalam Keheningan. Dalam ayat 16–18 digambarkan tentang doa orang miskin sebagai doa yang menembus awan, yang tidak berhenti hingga mencapai tujuannya. Ini adalah gambaran yang indah dan kuat: doa yang sederhana, keluar dari hati yang remuk, ternyata bergerak ke atas, terus mendesak, tidak terhentikan, sampai Allah turun tangan. Tuhan tidak tersentuh oleh retorika, tapi oleh hati yang hancur dan berserah sepenuhnya. Itu berarti: Doa bukan sekadar ucapan, tapi suatu gerakan spiritual yang menembus batas manusiawi, bahkan langit. Doa orang yang remuk hati dan yang percaya sepenuhnya kepada Allah, tidak pernah hilang dalam kesunyian. Ia mungkin tertunda, tetapi tidak pernah diabaikan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda