Pertempuran Di Dalam Diri
...

Pertempuran Di Dalam Diri

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Jumat, 24 Oktober 2025. Pertempuran di dalam diri (Roma 7:18-25). 7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. 7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. 7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. 7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. 7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, 7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? 7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Renungan : Dua pokok permenungan yang ddapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 7:18–25: Pertama, perang di dalam diri. Dalam ayat 18 Paulus menggambarkan konflik batin yang sangat manusiawi: “Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Paulus sadar bahwa dalam dirinya ada dua kekuatan yang bertentangan keinginan untuk menaati Allah dan dorongan dosa yang menolak-Nya. Pergumulan ini bukanlah tanda kegagalan rohani, tetapi tanda kehidupan rohani. Hanya orang yang memiliki Roh Kudus yang dapat merasakan ketegangan ini orang yang mati secara rohani tidak lagi berperang, sebab ia telah menyerah dirinya sepenuhnya kepada dosa. Itu berarti, kesadaran akan kelemahan bukan akhir dari iman, tetapi awal dari ketergantungan sejati kepada Kristus. Setiap kali kita menyadari bahwa kita tidak mampu, saat itulah kita diundang untuk berhenti mengandalkan kekuatan diri sendiri dan mulai bergantung kepada kasih karunia Allah sepenuhnya. Kedua, tubuh mautku tidak menyelamatkan, tapi Kristus melepaskan. Dalam ayat 24 Paulus berseru: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Seruan ini adalah jeritan manusia yang sadar betapa dalamnya kuasa dosa menjeratnya. Paulus menyadari bahwa tidak ada yang dapat membebaskan manusia dari diri yang rusak. Namun kesadaran itu berubah. Dalam ayat 25 Paulus dengan tegas berkata: “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Di sini, Paulus menegaskan bahwa pembebasan sejati bukan hasil perjuangan, tetapi anugerah penebusan. Dosa tidak berhenti berperang, tetapi kuasa Kristus lebih besar daripada perang itu. Kemenangan tidak berarti tidak lagi berjuang, melainkan memiliki Penebus yang selalu menang di tengah perjuangan. Maka setiap kejatuhan bukanlah akhir, tetapi kesempatan untuk kembali kepada kasih karunia yang tidak pernah menyerah. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda