Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Rabu, 22 Oktober 2025. Hamba kebenaran (Roma 6:12-18). 6:12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. 6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. 6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. 6:15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! 6:16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? 6:17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 6:12–18: Pertama, tubuh. Dalam ayat 13, Paulus menulis: “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” Dalam ayat ini, Paulus menyebut tubuh kita bisa menjadi senjata kelaliman atau senjata kebenaran. Dengan demikian Paulus hendak menegaskan bahwa tubuh manusia ikut berperan dalam peperangan rohani. Bagaimana pemilik tubuh itu menggunakannya untuk menjadi senjata kelaliman atau senjata kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari, tangan bisa digunakan untuk menolong atau melukai, mata untuk menatap dengan kasih atau dengan hawa nafsu, mulut untuk membangun atau menghancurkan. Menjadi milik Kristus berarti menyerahkan seluruh keberadaan jiwa dan raga kita kepada Allah. Hidup dalam kasih karunia berarti hidup dalam tanggung jawab untuk memilih menjadi sarana keselamatan atau kehidupan. Kedua, hamba kebenaran. Dalam ayat 16-18, Paulus menulis: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Dalam ayat 16-18, Paulus menantang pemahaman umum tentang kebebasan. Dunia sering berkata: Aku bebas karena aku tidak tunduk pada siapa-siapa. Tapi Firman Tuhan berkata: Setiap orang pasti menjadi hamba — entah hamba dosa, atau hamba kebenaran. Tidak ada posisi netral. Maka pertanyaannya bukan Apakah aku bebas? melainkan, Kepada siapa aku tunduk? Kasih karunia tidak membebaskan kita untuk hidup sesuka hati, tetapi memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah yang membawa kehidupan. Dalam menjadi hamba kebenaran, kita menemukan kebebasan yang paling sejati. Karena kita hidup sesuai dengan tujuan penciptaan kita. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda