Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Jumat, 17 Oktober 2025. Kebenaran di hadapan Allah (Romo 4:1-8). 4:1 Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? 4:2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. 4:3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. 4:4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. 4:5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. 4:6 Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: 4:7 Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya 4:8 berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 4:1–8: Pertama, ketika percaya lebih besar daripada berbuat. Dalam ayat 3 dikatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Paulus menggunakan Abraham, bukan hanya sebagai tokoh iman, tetapi sebagai bukti bahwa kebenaran di hadapan Allah tidak datang dari perbuatan, melainkan dari kepercayaan penuh kepada janji-Nya. Jika kebenaran dapat diraih lewat usaha, maka manusia bisa bermegah. Tetapi karena kebenaran diberikan lewat iman, maka semua kemuliaan hanya milik Tuhan. Dalam dunia yang mengukur nilai diri lewat kerja dan hasil, Injil justru mengundang kita untuk berhenti dari upaya menyelamatkan diri. Iman yang sejati adalah menyerah kepada anugerah Allah, bukan mempersembahkan performa rohani. Seperti Abraham, kita dibenarkan bukan saat kita berhasil, tapi saat kita percaya penuh pada Dia yang setia. Kedua, kebahagiaan sejati ditemukan saat dosa tidak lagi diperhitungkan. Dalam ayat 8 dikatakan: “Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Paulus mengutip Daud, yang mengerti secara mendalam arti pengampunan. Bagi Daud, kebahagiaan sejati bukan dalam kemenangan atau kekuasaan, tapi dalam satu hal: dosa yang ditutupi oleh kasih karunia. Ini adalah dasar penghiburan bagi setiap orang berdosa. Tuhan tidak memperhitungkan pelanggaran kita, karena Dia telah memperhitungkannya kepada Kristus. Dunia menawarkan kebahagiaan yang dangkal, berdasarkan keberhasilan, kenyamanan, atau pujian. Alkitab menunjukkan bahwa kebahagiaan terdalam ketika dibebaskan dari beban dosa. Ketika kita diselamatkan bukan karena kebaikan kita, tapi karena belas kasihan-Nya, maka tidak ada sukacita yang bisa menandingi hati yang tahu: “Dosaku diampuni, dan aku diterima.” Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda