Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Kamis, 16 Oktober 2025. Revolusi rohani (Roma 3:21-30). 3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, 3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. 3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. 3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. 3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. 3:29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! 3:30 Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambi dari bacaan hari ini, Roma 3:21–30: Pertama, kebenaran Allah dinyatakan melalui Pribadi Yesus Kristus. Dalam ayat 21-22, Paulus menjelaskan: “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan... yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.” Paulus menyatakan perubahan besar dalam cara Allah menyatakan kebenaran-Nya. Allah tidak lagi menyatakan kebenaran-Nya melalui hukum Taurat, tetapi melalui iman kepada Yesus Kristus. Ini bukanlah kebenaran yang dapat dicapai manusia, tetapi kebenaran yang diberikan oleh Allah sendiri kepada mereka yang percaya. Ini adalah revolusi rohani: Allah tidak menuntut kebenaran dari manusia, tetapi memberikannya sebagai anugerah melalui Yesus. Iman menjadi satu-satunya jalan, karena tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi standar-Nya. Maka, kebenaran bukan hasil usaha, tapi buah dari relasi yang percaya. Hal ini membebaskan, tapi sekaligus menantang kesombongan rohani yang ingin “berjasa” dalam keselamatan. Kedua, Salib Kristus membongkar dosa dan membuktikan keadilan serta kasih Allah sekaligus. Dalam ayat 26 Paulus berkata: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya... untuk menunjukkan keadilan-Nya...” Salib bukan hanya lambang pengampunan, tetapi demonstrasi publik tentang betapa seriusnya dosa, dan betapa adil serta murah hatinya Allah. Dosa tidak dibiarkan begitu saja. Dosa dibayar dengan darah. Tetapi manusia tidak perlu binasa, karena Allah sendiri yang menanggung akibatnya, supaya Dia tetap adil, dan tetap menyelamatkan. Di kayu salib, kita melihat dua hal yang tak dapat dipisahkan: keadilan dan kasih Allah. Ia tidak menyapu dosa di bawah karpet, tetapi juga tidak membiarkan manusia binasa begitu saja. Salib bukan jalan pintas, melainkan jalan satu-satunya agar Allah tetap benar dan manusia bisa dibenarkan. Di sanalah kita melihat betapa dalamnya kasih-Nya dan betapa seriusnya dosa kita. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda