Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Senin, 13 Oktober 2025. Identitas sejati (Romo 1:1-7). 1:1 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 1:2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, 1:3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, 1:4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. 1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. 1:6 Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. 1:7 Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Roma 1:1–7: Pertama, identitas sejati ditemukan dalam panggilan. Dalam ayat 1 tertulis: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah...” Paulus membuka suratnya dengan menyebut identitas dirinya yang bersumber dari panggilan dan penugasan Allah. Ia menyebut dirinya hamba Kristus, sebuah istilah yang menunjukkan pada penyerahan total. Kemudian Paulus menyebut panggilannya sebagai rasul, bukan karena prestasi, melainkan karena kasih karunia (ayat 5). Bacaan ini mengundang kita untuk merefleksikan realitas hidup zaman ini. Ketika, dunia mendefinisikan manusia berdasarkan pencapaian dan status, Paulus menunjukkan bahwa nilai hidup sejati ditentukan oleh siapa yang memanggil kita, dan untuk apa kita hidup. Kita semua dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi untuk menjadi bagian dari rencana Allah, terlepas dari latar belakang atau kegagalan masa lalu. Panggilan ilahi membentuk identitas kekal kita. Kedua, Injil adalah Kabar Baik yang mengikat kita pada sejarah, kuasa, dan tujuan kekal. Dalam ayat 3-4 dikatakan: “...tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya...” Di sini, Paulus menunjukkan bahwa Injil bukan sekadar doktrin, tetapi kisah tentang Yesus Kristus yang nyata, yang terhubung dengan sejarah Israel (keturunan Daud), penuh kuasa rohani (kebangkitan), dan menjadi dasar dari misi untuk membawa semua bangsa kepada iman dan ketaatan (ayat 5). Yesus bukan sekadar tokoh iman, tapi Raja yang dijanjikan dan dibangkitkan, yang memanggil kita masuk dalam misi-Nya untuk menjangkau bangsa-bangsa. Dengan percaya kepada-Nya, kita tidak hanya diselamatkan, tetapi juga diutus untuk hidup dengan arah, kuasa, dan tujuan yang kekal. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr
Pertama :
Kedua :
Berkat :
Kembali ke Beranda